Langsung ke konten utama

Cerpen-Clarissa Putri

Rindu, Amarah, dan Penyesalan

Di sebuah Pondok Pesantren di daerah Banten, Rhea, seorang gadis kelas X ini tampak sangat bersemangat hari ini. Karena, orang tuanya akan berkunjung ke pondok. Ia sangat antusias menunggu Orangtuanya datang. Raut wajahnya terlihat sangat senang. Ia tak sabar untuk segera bertemu dengan orangtuanya, Rhea sangat merindukan mereka.  Saat ini, ia sedang duduk di depan kamarnya mennunggu matahari terbit sembari menikmati segelas susu hangat di tangannya. Ada seorang  gadis menghampiri Rhea, itu adalah sahabatnya, Lea namanya.

“Hei, tumben sepagi ini kamu ada diluar, biasanya selalu dikamar” ujar Lea.

“Hehe lagi pengen keluar aja nunggu matahari terbit” jawab Rhea

“Kamu kelihatannya lagi seneng banget, ada apa?” tanya Lea penasaran karena ia jarang melihat Rhea sesenang ini.

“Orangtuaku hari ini datang menjengukku setelah 3 bulan lamanya” jawabnya bersemangat.

“oh ya? Orangtuaku pun hari ini datang menjengukku, nanti kita tempat jenguknya sebelahan ya...” Ajak Lea antusias.

“Ayooo.... pokoknya kita nanti dijenguk barengan yaa” Jawab Rhea tak kalah antusias.

“okee” Jawab Lea.

Lalu mereka pun lanjut mengobrol hingga mentari menampakkan sinarnya.

 

Pukul 12 siang. Jam penjengukan sudah dibuka. Orangtua Lea sudah sampai ke pondok dan Lea menyambut orangtuanya dengan antusias, saling berpelukan utuk melepas rasa rindu yang tersimpan cukup lama. “Rhea, aku duluan yaa” Ujar Lea kepada Rhea sebelum pergi ke tempat penjengukan. “Oke, tunggu aku yaaa” Balas Rhea. Ia pergi ke kantin sembari menunggu orangtuanya datang.

Pukul 2 siang, orangtuaya pun tak kunjung datang. Rhea sudah mulai bosan menunggu. Tapi, ia berusaha tetap sabar menunggu orangtuanya datang. 1 jam berlalu, tak ada tanda-tanda kedatangan orangtuanya kemari. Ih, kok mereka belum datang ya? Monolog Rhea. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, sudah waktunya shalat ashar. Dengan wajah merengut Rhea kembali ke kamar untuk bersiap siap shalat ashar di masjid.

Sepulangnya Rhea dari masjid, orangtuanya belum datang juga. Ia merasa kesal juga sedih, mengira Orangtuanya lupa jika ingin menjenguknya di pondok. Pukul 4 sore, Orangtua Rhea pun sampai di pondok. Namun, alih-alih menyambut Orangtuanya dengan baik, Rhea marah marah kepada Orangtuanya, “Kok kalian baru dateng sih? Aku kan udah nunggu daritadi” Ujarnya kesal. “Maaf ya nak kami terlambat, tadi ada kendala diperjalanan, jadi kita baru sampai sore” Jelas Orangtuanya. “ih tau lah” Jawab Rhea ketus. Lea yang tempat jenguknya bersebelahan dengan Rhea melihat perlakuan Rhea yang tidak sopan kepada Orangtuanya. “Aku harus menasehatinya nanti” Ujarnya dalam hati.

Sepulangnya mereka setelah dijenguk, Mereka bersiap siap untuk shalat maghrib dan isya di masjid. Sepulang shalat Lea menghampiri Rhea, “Rhe, kamu kenapa kok tadi kamu marah marah ke Oragtuamu?” Tanya Lea. “Aku kesal, mereka lama banget datangnya. Aku kan jadi nunggu lama” Jawab Rhea ketus. “Jadi karena itu kamu marah-marah ke Orangtuamu tadi sore? Kamu gak boleh seperti itu ke orangtuamu” Ujar Lea kepada Rhea. “Tapi kan aku kesel udah nunggu lama” Jawab Rhea ketus. “Walaupun kamu kesal tapi mereka tetap Orangtuamu. Mereka jauh-jauh dari rumah kesini capek-capek cuma buat jenguk kamu yang ada di pondok terus pas mereka sampai sini kamu malah marah marah ke mereka. Menurutmu mereka sakit hati gak pas dengar perkataanmu itu? Mereka berharap kedatangan mereka disambut antusias sama kamu tapi kamu malah marahin mereka karena dateng telat.” Ujar Lea menasihati Rhea. Rhea yang mendengarnya hanya bisa menunduk sambil merenungkan perbuatannya sore tadi kepada Oragtuanya. “Kamu benar Lea, gak seharusnya aku kaya gitu ke Orangtuaku”  Ujar Rhea penuh penyesalan. “”Besok kamu telepon Orangtuamu ya, minta maaf karena udah tidak sopan kepada mereka” Saran Lea. “Iya, besok aku akan minta maaf ke Orangtuaku” Jawabnya.

 

UNSUR INTRINSIK

 TEMA: Kekeluargaan, persahabatan, penyesalan, kerinduan

ALUR: Maju, karena menjelaskan dari dimulainya hari hingga malam ketika Lea menasihati Rhea.

LATAR TEMPAT: Pondok, tempat penjengukan

LATAR WAKTU: Pagi, siang, sore, malam setelah shalat isya

TOKOH DAN PENOKOHAN: 

  • Rhea: tidak sabaran, emosian, tinggi ego (Antagonis)
  • Lea: baik, penyabar, peduli sahabat (Protagonis)
  • Orangtua Rhea:Penyabar (Protagonis)
SUDUT PANDANG: Sudut pandang orang ketiga

AMANAT: Hargai orangtua yang sudah berusaha melakukan apapun untukmu, kesabaran, jaga emosi dan perilaku terhadap orangtua, belajarlah dari kesalahan, berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

UNSUR ENTRINSIK

NILAI NILAI KEHIDUPAN: Nilai moral, nilai etika, nilai kemanusiaan

CLARISSA PUTRI XI-7



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku - Wirda Tsaniya

  Nama: Wirda Tsaniya Sahla Kelas: XI-7 Tugas: Resensi Novel Warung Bujang Karya Jessica Carmelia Warung Bujang adalah novel karya Jessica Carmelia yang mengangkat tema kehidupan remaja dengan latar belakang kehidupan sehari-hari di sebuah warung kecil. Novel ini menggambarkan kisah tentang harapan, impian, dan hubungan antar manusia, yang diwarnai dengan berbagai konflik dan dinamika yang terjadi dalam kehidupan seorang pemuda bernama Bujang. Plot Cerita Novel ini berfokus pada kehidupan Bujang, seorang pemuda yang memiliki impian besar namun terjebak dalam rutinitas sebagai pemilik warung makan kecil yang diwariskan oleh orang tuanya. Meskipun tampaknya sederhana, kisah ini penuh dengan ketegangan emosional yang dibangun dengan baik oleh penulis. Bujang, yang merupakan karakter utama, harus menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam hidupnya, antara mempertahankan usaha warung keluarganya atau mengejar impian pribadinya. Cerita berkembang dengan memperkenalkan berbagai karakter pendu...

Resensi Novel - Fina Zakiyatun

  Judul: Mahajana Penulis: Gigrey Penerbit: Gramedia pustaka utama  Tahun Terbit: 2020 Tebal: 456 halaman Genre: Drama Sosial, Budaya Sinopsis: Novel Mahajana karya Gigrey membawa pembaca menyelami kehidupan masyarakat adat dengan segala keunikan dan konflik yang menyertainya. Cerita ini menggambarkan bagaimana tradisi dan kearifan lokal dipertahankan di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman. Di dalamnya, ada kisah perjuangan mempertahankan nilai-nilai adat, dinamika keluarga, dan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Tokoh utama dalam cerita ini bergulat dengan dilema antara mempertahankan tradisi leluhur atau mengikuti perkembangan modern. Konflik ini tidak hanya personal tetapi juga melibatkan masyarakat luas, menjadikan Mahajana sebagai cerita yang relevan dalam menggambarkan kondisi sosial-budaya di berbagai daerah Indonesia. Kelebihan: 1. Penggambaran Budaya yang Kuat: Gigrey berhasil membawa pembaca masuk ke dalam nuansa kehidupan masyarakat adat dengan d...

Naskah drama- Diva Rahmatika, Fara Salma, Septia Putri, M. Haiden, Naysila Firda, Riska Syafa

Judul : Dibalik Sebuah Pertemanan. Tokoh dan penokohan : 1.        Diva (Siswa yang banyak menuduh temannya) 2.        Fara (Siswa yang menjadi ketua kelas dan penengah) 3.        Septi (Siswa yang mudah marah) 4.        Haiden (Siswa yang berani untuk mengambil uang kas) 5.        Sila (Siswa yang rajin) 6.        Riska (Bendahara kelas yang bertanggung jawab)   PROLOG : Septi, Sila, Riska, Fara, Diva, Haiden adalah teman satu kelas. Riska sebagai bendahara, Fara sebagai ketua kelas.   Latar : Kelas (Pagi hari di kelas dengan cahaya yang cerah, lagu yang semangat mengalun saat Septi berjalan memasuki kelas)   Septi : Halo guys, selamat pagi. (melambaikan tangan) Riska, Fara, Sila, Diva : Halo (Sahut bersama) Sila : Tumben jam setengah 7 udah sampe sekolah? Septi ...