Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Cerpen - Indana Aisyah

  Sincerity of Love  Pagi hari tiba, dan matahari menampakkan mukanya seperti biasa. Aku terbangun termenung sembari mengumpulkan nyawaku. Suasana masih sama, virus Covid 19 itu masih juga tidak berhenti menyebarkan dirinya ke dunia. “Pukul berapa sekarang?”, Gumamku.  Hingga aku terperanjat ketika melihat jam di handphone sudah memunculkan angkanya di 06.15.  “Ya Allah, aku kan masuk jam 07.00, kenapa gaada yang bangunin aku sih!” Bentakku pada handphone yang tak tahu salahnya apa. Aku pun langsung menarik selimut dan mulai berdiri menuju kamar mandi. Sementara itu, untungnya seragam sekolahku sudah kusetrika. Hingga setelah mandi aku langsung bergegas ganti pakaian dan merapikan barang-barang yang ada di tasku. “Udah jam segini, gausah lah sarapan biasanya juga ngga, aku langsung berangkat aja.” Kataku sambal tergopoh-gopoh memakai sepatu. Aku berjalan kaki ke sekolah, biasanya diantar sih, tapi kalau udah kepepet gini jalan juga bisa, untungnya jarak rumah menuju ...

Cerpen-Aina Hafsah

     “Layar yang Membingkai Kenangan” "Ketika dunia tampak hanya seberkas cahaya, terkadang kita perlu langkah kecil untuk melangkah ke dalamnya." Kata-kata itu mengalir begitu saja dari bibir Pak Bisri, guru Alquran Hadist yang biasanya penuh dengan senyum dan canda. Tapi kala itu, ada sesuatu yang berbeda dalam matanya. Seolah-olah ada dunia lain yang ingin ia buka, dan aku merasa menjadi bagian dari cerita yang lebih besar.                                   ~**~ Aku sedang asyik bermain bersama teman-te...

Cerpen - Syahrossa Rahma

  Kecewa Yang Tidak Pernah Ku Siapkan “Ma, aku gamau balik pondok” ucapku pada Mama yang sedang tanya mau balik pondok kapan. Saat itu langit sedang menangis, seakan mengerti kondisi hatiku. “Kenapa gamau kak?”. Flashback on La, kamu tidur di kamar kantor lagi ga? “iya kayanya, kenapa Ca?” tanya Nala. “Aku mau ikut tidur disana juga boleh ga?” jawabku. Dengan ragu Nala menjawab “boleh, ayo”. Hai, namaku Aca, Aku adalah santriwati di Pondok Pesantren yang masih terbilang kecil. Aku mempunyai teman yang sangat baik dan tidak perhitungan, kami sudah berteman selama 3 tahun, tak heran kami bisa curhat masalah pribadi masing masing. Namun, ada 1 hal yang tidak pernah Nala ceritakan padaku. Jam menunjukkan pukul 03.30 dini hari, aku yang tertidur di sebelah Nala terbangun saat merasa lampu kamar kantor mati. “loh kok mati sih” batinku. Aku tak tega membangunkan Nala yang tertidur pulas di sebelahku hanya karena ketakutanku, Aku mencoba untuk memejamkan mataku. Namun saat aku baru akan me...

Cerpen - Sekar Arum

  Kala di Waktu Itu Oleh: Sekar arum candraningtyas Kala itu, angin sore menyapa dengan lembut, membawa aroma tanah basah yang mengingatkan pada hujan yang baru saja berlalu. Di bawah pohon besar di pinggir jalan, aku duduk bersama kamu, seperti yang selalu kita lakukan bertahun-tahun lalu. Tidak ada banyak kata yang keluar, karena kita tahu, dalam keheningan pun kita bisa saling mengerti. “Apa yang kamu pikirkan?” tanyamu, suaramu terkesan lebih dalam dari yang biasa. Aku menoleh, melihat matamu yang penuh dengan tanya, seolah ingin tahu lebih banyak tentang diriku yang selalu kamu anggap sulit dipahami. Aku tersenyum tipis. Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan sesuatu yang terasa begitu rumit dalam hati? “Pikiranku banyak. Tentang kita, tentang waktu, tentang apa yang telah berubah,” jawabku, suara itu terdengar jauh, seperti kenangan yang sudah terlalu lama tersimpan. Kamu menunduk, meraih sebatang rumput yang tumbuh di dekat kita, lalu menggulungnya di antara jari...

Cerpen - Naysila Firda

 Judul  : yang kusayang telah usai Dinda selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Setiap pagi, dia akan bangun dengan suara adu argumen antara ayah dan ibunya yang sudah tak asing lagi di telinganya. Suara itu mengisi setiap sudut rumah mereka yang dulu pernah penuh tawa. Kini, rumah itu terasa sepi meskipun ada orang di dalamnya. Ayah Dinda, seorang pria yang dulu penuh kasih sayang, kini lebih sering marah-marah tanpa alasan yang jelas. Ibunya, yang dulunya lembut dan penyayang, kini hanya bisa menangis di balik pintu kamar, menghindari konflik yang terus berulang. Dinda, di tengah semua itu, berusaha untuk tetap kuat. Dia menganggap semuanya adalah bagian dari hidup yang harus dijalaninya. Namun, ada kalanya dia merasa kesepian, bahkan di tengah keramaian. Teman-temannya sering bercerita tentang keluarga mereka yang hangat, tentang ayah yang mengajak bermain bola di sore hari atau ibu yang memasakkan makanan favorit mereka. Dinda hanya bisa tersenyum tipis, semba...

Cerpen-Oase Kinarya

Ketika hujan turun, aku duduk termangu di teras rumah sembari menyaksikan anak tetangga yang sedang asik bermain hujan-hujanan bersama temannya. Sontak pikiranku tempias pada masa kecil, kenangan yang akan selalu teringat sepanjang waktu. Anugerah Allah memberikan pengalaman yang begitu mengesankan. Masa kecilku bisa dibilang sangat bahagia tanpa beban hidup. Masa kecil adalah waktu dimana aku bebas untuk menunjukkan kesedihan dan kebahagiaan. Ketika ingin menangis, aku langsung menangis tanpa berpikir panjang untuk melihat kondisi atau melihat tempat. Waktu aku menangis, hanya pelukan seorang ibu yang mampu membuat air mataku. Kalau sekarang mau sedih seperti apapun kalau bisa tetap harus terlihat tertawa di depan orang tua. Kalau mau nangis ya di kamar tidur atau di kamar mandi. Tapi, terkadang aku merasa tidak dapat menyembunyikannya. Setiap pulang sekolah aku ganti baju dan makan siang, kemudian langsung bermain dengan teman-teman di desa. Temanku kebanyakan memang laki-laki. Aku b...

Cerpen - Septia Fitri

 "Kenangan di Balik Jendela" Hari itu, suara adzan subuh yang biasanya menyejukkan hatiku terasa begitu berbeda. Ada keheningan aneh di rumah kami, seolah semua benda di sekitarku tahu bahwa sebuah kehilangan besar telah datang. Di ruang tengah, tubuh nenek terbujur kaku, dibalut kain putih yang begitu sederhana. Wajahnya terlihat damai, namun kepergiannya meninggalkan luka yang tak terlukiskan di hatiku. Aku mematung di sudut ruangan. Rasanya seperti mimpi buruk yang tak ingin kusadari kebenarannya. Nenek adalah sosok yang selama ini menjadi pelita dalam hidupku. Ketika aku kecil, nenek adalah tempatku berlindung dari segala kesedihan. Setiap kali aku jatuh, nenek selalu ada untuk menenangkan dan menghapus air mataku.Namun, belakangan ini, aku melihat tubuh nenek semakin lemah. Langkahnya lambat, napasnya berat, tapi ia selalu berkata, “Nenek baik-baik saja, jangan khawatir.” Ia tetap tersenyum, tetap memelukku dengan hangat, meskipun aku tahu ia sedang melawan rasa sakit ya...

CERPEN MOCH.IKHYA' ULUMUDDIN

  Janji yang Terlupakan   Dewi menatap foto yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurnya. Foto itu menunjukkan dirinya bersama seseorang yang kini sudah lama tidak ia temui, Ardi. Mereka tersenyum lebar di tengah hamparan bunga di taman belakang rumah, hari itu adalah hari kelulusan mereka. Janji yang mereka buat saat itu masih terngiang di benaknya, seperti baru terjadi kemarin. "Suatu hari, kita akan sukses bersama, Dewi. Aku janji, kita akan selalu ada satu sama lain," kata Ardi dengan mata berbinar-binar saat itu. Dewi hanya tersenyum, meskipun dalam hatinya ada rasa cemas. Mereka berdua sudah berjanji untuk tidak saling meninggalkan, apapun yang terjadi. Namun, janji itu terasa semakin jauh seiring berjalannya waktu. Setelah kelulusan, Ardi melanjutkan studi di luar negeri, sementara Dewi memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan lokal. Mereka berjanji untuk saling mengabari, berbagi cerita, dan menjaga komunikasi meski jarak memisahkan. Tapi seiring w...

Cerpen-M.Basori Alwi

                PERJUANGAN YANG SULIT       Riko duduk di pinggir sungai sebuah tempat yang sudah menjadi rutinitasnya setiap sore. Sekelilingnya, asap rokok menghiasi udara di sekitar sungai. Semua teman-temannya sesama perokok, tampak nyaman menikmati cerutu dan rokok mereka, seolah tidak ada yang salah dengan kebiasaan itu. "Riko, rokoknya mana?" tanya Ardi, sahabatnya yang duduk di bawah pohon sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. Riko hanya tersenyum pahit mencoba menghindari pandangan Ardi yang penasaran. Ia sudah berusaha beberapa kali untuk berhenti merokok, namun lingkungan tempat ia tinggal dan berkumpul selalu mengujinya. Setiap kali ia berniat untuk berhenti, asap rokok di sekitarnya membuatnya merasa seperti sedang terperangkap dalam kebiasaan yang sulit diputuskan. Lingkungan yang begitu mendukung kebiasaan buruk itu seakan tak memberi kesempatan bagi Riko untuk melepaskan diri. "Satu saja," Ardi menggoda. "Biar n...

Cerpen-A.Fikri Adz-dzaki

Perjuangan Bapak Di sebuah desa kecil yang terletak di pinggiran kota, hidup seorang bapak sederhana bernama Pak Sugeng. Ia tinggal bersama istrinya, Bu Rini, dan seorang anak laki-laki bernama Yogi yang baru saja tamat sekolah dasar. Setiap pagi, saat matahari baru saja menyinari desa, Pak Sugeng sudah bangun dan mulai menyiapkan alat untuk bekerja. Dengan mengenakan sarung lusuh dan kemeja yang mulai pudar warnanya, ia menuju ladang miliknya yang terletak tak jauh dari rumah. Pak Sugeng adalah seorang petani kecil yang mengandalkan tanah yang tidak terlalu subur untuk menghidupi keluarganya. Ladangnya sempit, dan hasil panennya sering kali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, meski hidup serba kekurangan, Pak Sugeng selalu berusaha keras untuk memastikan anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Bagi Pak Sugeng, pendidikan adalah kunci untuk membuka peluang yang lebih besar bagi masa depan Yogi. Setiap kali Yogi bertanya tentang melanjutkan sekolah ...

Cerpen-Heni Ayu Wulandari

  NASIHAT ORANG TUA Tepat 6 tahun yang lalu, 2 Juli 2018 dimana terputar sebuah kenangan yang tak terlupakan. Dan ditambah dukungan dari kedua orang tuaku, aku menjalani perintah mereka. Mulai dari kecil dimana aku masih duduk dibangku kelas 2 Sekolah Dasar. “Hiakk..!”. Satu tendangna yang bagus tepat pada sasaran. Lantas langsung terdengar suara tepuk tangan dari Coach.Akbar. Iya, itu adalah kegiatan keseharianku ketika ingin mengikuti lomba.Ketika ingin mendekati hari dimana pertandingan dimulai. Aku terus berlatih untuk mempersiapkan diri dihari itu. Saat hari dimana pertandingan dimulai aku dan temanku yang bernama Vian, akan bertanding ditempat yang sama. Tetapi ada satu hal yang mengganjal dalam benak ku. Dimana aku merasa, seolah-olah Coach.Akbar lebih memperhatikan Vian dalam segi apapun.Kebetulan aku mendapat nomor urut lebih dulu dari Vian. Dalam pertandingan aku sempat merasa takut karena saat bertemu lawanku, ia sudah di tingkat yang lebih tinggi diatas ku. Keti...

CERPEN - Nadine Azzah

BUKAN TENTANG KARYA Lorong sekolah di siang hari sangat membosankan kulewati dengan hentakan Langkah Sepatu, seketika suara gema menghadirkan sosok terhormat, sosok yang Ikhlas memberikan ilmu kepada siswa – siswanya. Di sekolah siswa bernama Harfan bersama teman satu ekskulnya nya diajak oleh guru untuk mengunjungi pameran seni pada hari sabtu, tepatnya tanggal 18 mei 2024 pada saat di Lokasi tersebut disana alangkah banyak sekali karya-karya yang akan dipamerkan. Harfan dan teman-temannya mulai masuk ke ruangan, seketika teman-temannya berpisah mengamati dari karya seni indah dan bermakna, disitulah Harfan mengetahui bahwa semua karya memiliki perbedaan dan mempunyai ciri khas masing-masing. Ketika melihat kondisi sekitar, Harfan secara tidak langsung baertatapan dengan seorang anak Perempuan. Takjub pandangan pertama, belum bisa mengutarakan dengan kata-kata dan seperti memandang mawar berbunga di musim semi, membuat Harfan skeptis seakan-akan déjà vu dengannya. Padahal baru p...

Cerpen-Evi Diya Turrohmah

Di Ujung Harapan Di sebuah desa yang terletak di pinggiran kota, hiduplah seorang remaja bernama silva. Silva adalah seorang siswi SMA yang selalu bersemangat meskipun hidupnya penuh dengan kesulitan. Sejak kecil, ia terbiasa dengan ketidakpastian. Ayahnya sudah lama meninggal, dan ibunya bekerja keras sebagai buruh pabrik dengan gaji yang pas-pasan. Meski begitu, Silva selalu berusaha untuk tetap optimis dan menyimpan impian besar untuk masa depannya. Setiap pagi, silva bangun lebih awal untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan dan memastikan adik-adiknya siap berangkat ke sekolah. Setelah itu, ia langsung berangkat ke sekolah dengan sepeda tua pemberian ayahnya. Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, dan terkadang sepeda itu rusak di tengah jalan, namun silva tidak pernah mengeluh. Ia tahu, setiap langkah yang ia ambil adalah bagian dari perjuangan untuk meraih cita-citanya. Namun, tidak semua orang mengerti perjuangannya. Teman-teman di sekolah sering mengejeknya karena kondisinya ...

Cerpen-Ryan Rachmatullah

Liburan di Pantai Pagi itu, matahari bersinar lembut dari timur, memancarkan kehangatan yang mengundang. Angin sepoi-sepoi membawa aroma asin khas laut, membuat saya tak sabar untuk memulai liburan singkatnya di Pantai ngudel malang. Setelah berbulan-bulan berkutat dengan tugas skola dan pondok, akhirnya osee mendapat waktu untuk rehat. Saya dan teman-teman, supri, dayat tiba di pantai tepat pukul 9 pagi. Pasir putih membentang luas, ombak kecil berkejaran di tepi pantai, melengkapi keindahan suasana di pantai ngudel saat itu. “Akhirnya Kita bisa bebas dari kitab dan tumpukan buku,” ujar saya sambil terjatuh Tanpa menunggu lama, mereka berdua berganti pakaian renang dan langsung berlari menuju udara. Ombak yang menyentuh kaki mereka terasa sejuk.saya tertawa saat melihat supri terpeleset mencoba melawan arus kecil. Suasana penuh canda itu membuat semua kepenatan terasa hilang. Setelah puas Matahari “supri, tahu nggak? Rasanya aku nggak mau pulang,” ucap supri sambil menatap jauh ke lau...

Cerpen- M. Sahrus

  Perjuangan membeli handphone  Namaku MSS , seorang siswa kelas 11 yang punya mimpi sederhana: handphone. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi karena aku suka fotografi, dan ponsel itu punya kamera yang canggih. “dek, emang kuat nabung? Harganya kan belasan juta!” sindir kakakku, saat aku mengutarakan niatku. Aku hanya tersenyum. “Kuat, kok! Asal aku disiplin, pasti bisa.” Sejak itu, aku mulai menabung. Setiap uang saku yang diberi orangtuaku, kupotong separuh untuk dimasukkan ke dalam celengan plastik berbentuk ayam. Selain itu, aku juga mulai mencari uang tambahan dengan ikut tahlilan dan hajatan/undangan bersama ayah Dua bulan pertama berjalan lancar. Setiap malam aku menghitung uangku sambil mencatatnya di buku kecil. Tabunganku semakin mendekati setengah harga handphone Namun, di bulan ketiga, masalah muncul. Hari itu, aku membawa uang Rp300.000 untuk disetorkan ke rekening tabunganku setelah pulang sekolah. Tapi saat aku membuka tas untuk mengambilnya, uang itu hi...

Cerpen- Bima Cahya Mukti

**Di Balik Jendela** Di sebuah kota kecil yang tenang, hiduplah seorang gadis bernama Maya. Setiap hari, dia menghabiskan waktunya di balik jendela besar di ruang tamu rumahnya, mengamati dunia luar dengan penuh rasa ingin tahu. Jendela itu adalah jendela besar berbingkai kayu tua yang pernah menjadi saksi bisu berbagai peristiwa dalam kehidupan Maya. Suatu pagi, ketika cahaya matahari memasuki ruangan dengan lembut, Maya melihat seorang anak laki-laki baru di seberang jalan. Anak laki-laki itu, yang kira-kira seusianya, sedang bermain layang-layang dengan penuh kegembiraan. Maya merasa tertarik dan sedikit iri melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah anak laki-laki itu. Namun, karena sifat pemalu dan kebiasaannya bersembunyi di balik jendela, Maya hanya bisa mengamati dari kejauhan. Hari demi hari berlalu, Maya terus mengamati anak laki-laki itu yang selalu tampak ceria dan aktif. Mereka bahkan sempat beberapa kali bertukar pandang, meskipun tanpa kata. Maya merasa ada sesuatu ya...