Langsung ke konten utama

Cerpen - Fara Salma

 

Bunga Menungguku Di Ujung Pintu

Penulis : Fara Salma XI-7

Suatu hari dibulan tDesember, aku duduk disalah satu anak tangga sekolah sambil menahan tangisan yang sejak dulu sudah ku pendam, tak ada satupun teman yang menghampiriku dan bertanya bahwa aku baik baik saja atau tidak, alasannya karena kedua orangtuaku sudah berpisah. Tiba-tiba salah satu siswi menghampiri dan mengajakku berbincang singkat. “Halo, nama kamu siapa?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya kepadaku, aku yang hanya menundukkan kepala mau tidak mau melihat wajahnya yang sangat ceria. “Namaku Sal.” Jawabku singkat tanpa menerima uluran tangannya. “Namaku, Nabila.” Lanjutnya. Tidak ada percakapan lebih disana, kami berdua hanya menunggu jemputan dan menikmati angin yang berhembus di sore itu.

 Hari hari berikutnya, aku sampai di sekolah tertatih tatih mengingat percakapan Mama kepadaku tadi malam di kamar tidurku. “Sal, kalau kita pindah ke Bandung, bagaimana?” Tanya Mama dengan tatap penuh harap pada jawabanku. Aku pun bingung harus menjawab apa. Walaupun aku gagal dalam memiliki teman, namun aku mempunyai banyak kenangan yang tak terlupakan di tanah ini. Aku menjawab dengan tegas “Gak mau. Sal, ga akan mau pindah ke Bandung, titik.” Aku berlari menuju kamar mandi dengan handphone yang berada di genggamanku, ku telpon orang yang berharga dalam hidupku. “Bapak, Sal, ga mau pindah, Sal maunya tinggal disini aja, kalau Sal pindah, Bapak ga ketemu Sal lagi.” Isakkanku terdengar di sambungan Bapak, aku memohon mohon agar bapak mau menjemputku. “Sal, jangan nangis, nanti bapak bicarakan ke mama dulu ya, berdoa saja agar Mama berubah pikiran.” Ucapan singkat itu cukup menenangkan diriku. 

 Saat jam istirahat, aku dihampiri oleh Nabila yang sekarang sudah cukup dekat dengan diriku. “Sal, bagaimana kabarmu?” Tanyanya sambil memberikanku sebotol minuman susu yang dibawakan lebih oleh ibunya. “Ya, gini gini aja, Bil. Semuanya sama.” Ucapku sambil tersenyum. Nabila mengerti bahwa aku sedang tidak baik baik saja, dia memberi kata kata semangat tanpa bertanya kenapa aku bersedih, kata kata itu bagaikan kekuatan yang sangat besar. “Sal, aku tidak tau apa yang kamu hadapi saat ini, tapi jika kamu menyerah dan tidak ada kekutan untuk melewati sesuatu, kamu tidak akan pernah menemukan bunga bunga bermekaran yang sedang menunggumu di ujung pintu. Jadi, apapun yang terjadi dihadapi, jangan takut.” Aku termangu mendengar perkataan Nabila, apa yang dikatakan Nabila ada benarnya juga. Mengapa aku mau untuk tersemai di situasi ini?. 

 Setelah pulang sekolah, aku membicarakan hal ini secara serius dengan Mama, namun apa daya, Mama tetap ingin aku ikut dengannya untuk pindah ke Bandung. “Ma, aku pengen disini aja sama Bapak.” Ucapku penuh kelirihan. “Sal, ikut Mama aja. Hidupmu akan terjamin jika Bersama Mama.” Ucap Mama tetap pada pendiriannya. 

Malamnya entah mengapa pikiran ini kalut, aku pergi diam diam ke rumah Bapak dengan membawa baju bajuku, diperjalanan aku hanya bisa menangis tersedu-sedu. Sesampainya disana, Bapak kaget dengan kehadiranku. “Loh, kok, Sal bisa disini?, emang kesini ga bilang ke Mama?” Tanyanya dengan dahi berkerut. “Sal, maunya disini sama bapak, ga mau sama Mama. Bapak tolong bilang ke Mama ya..” Bapak pun tak sanggup melihatku menangis, ia dekap ragaku dengan erat.

 Aku tak sekolah beberapa hari dan memutuskan untuk pindah sekolah, Mama pun sudah tau bahwa aku sudah ditempat Bapak. Suatu Ketika Mama marah ingin anaknya ikut dengannya, satu sisi Bapak memohon agar anaknya bersamanya untuk sementara, Bapak iba melihat Sal selalu memohon mohon padanya untuk mempertahankannya. Akhirnya Mama luluh dan melepaskan diriku untuk ikut dengan Bapak, dan Aku memilih untuk keluar dari sekolah tersebut. 

Di pagi hari, aku kembali ke sekolah untuk mengambil surat bahwa aku sudah resmi keluar dari sekolah tersebut. Aku berpamitan dengan Nabila-teman satu satunya yang tulus menemaniku dan mengubah cara pandangku.  

 Aku memulai hari baru di sekolah baru, tak begitu ada yang berbeda. Ku jalani hari hari dengan hati kelegaan bahwa aku sudah melewati hal hal yang penuh kesulitan. Aku sudah mempunyai banyak teman yang baik hati, selalu menolong diriku. 

 Kini aku sudah merasakan bunga bunga bermekaran di ujung pintuku, ku buka pintuku penuh dengan bunga bunga indah yang jauh lebih banyak, perjalananku tak sia sia untuk aku lewati. Terimakasih untuk Nabila yang selalu menemaniku bertemu dengan bunga bunga ini, akan ku berikan bunga bunga indah ini untukmu saat kita bertemu lagi.

Unsur Intrinsik :

1. Alur

Alur yang digunakan adalah alur campuran, di mana cerita berjalan maju lalu berubah mundur dan beralih ke maju lagi.

2. Tokoh dan Penokohan

Aku (tokoh utama): Seorang anak yang tak punya teman dan bingung untuk menghadapi sulit karena kurangnya arahan, akhirnya menemukan jalan keluar dengan cara melewati masalah. (Protagonis)

Mama : Seorang ibu yang ingin anaknya ikut dengannya dengan cara paksaan. (Antagonis)

Bapak : Membela anaknya untuk memilih pilihan yang dia mau, penyayang kepada anaknya. (Protagonis)

Nabila : Teman pertama Sal yang sangat tulus dan membantu sal untuk menghadapi masalahnya. (Protagonis)

3. Latar

Latar Tempat:

Tangga sekolah, rumah, kamar mandi

Latar Waktu:

Sore hari, malam hari, pagi hari.

Latar Suasana:

Sedih, kasihan, mencekam.

4. Tema

Tema utama cerpen ini adalah perjuangan dalam melewati masalah dengan cara menghadapinya tanpa rasa takut.

5. Sudut Pandang

Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama. 

6. Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang digunakan sederhana, lugas, dan mudah dipahami. Beberapa dialog informal mencerminkan percakapan sehari-hari.

7. Amanat

Keberanian untuk melewati masalah akan menemukan titik terang yang membuat kamu bahagia.

Disaat kesedihan pasti akan ada waktunya untuk kebahagiaan.

Kebahasaan dalam cerpen :

1. Keterangan waktu : Setelah

2. Verba aksi : Membicarakan, mendengar, mengampiriku, mengajakku, menunggu, menjawab, bertanya, menangis.

3. Dialog : “Halo, nama kamu siapa?”, “Namaku, Sal”, “Sal, aku tidak tau apa yang kamu haadapi saat ini, tapi jika kamu menyerah dan tidak ada kekutan untuk melewati sesuatu, kamu tidak akan pernah menemukan bunga bunga bermekaran yang sedang menunggumu di ujung pintu. Jadi, apapun yang terjadi dihadapi, jangan takut.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku - Wirda Tsaniya

  Nama: Wirda Tsaniya Sahla Kelas: XI-7 Tugas: Resensi Novel Warung Bujang Karya Jessica Carmelia Warung Bujang adalah novel karya Jessica Carmelia yang mengangkat tema kehidupan remaja dengan latar belakang kehidupan sehari-hari di sebuah warung kecil. Novel ini menggambarkan kisah tentang harapan, impian, dan hubungan antar manusia, yang diwarnai dengan berbagai konflik dan dinamika yang terjadi dalam kehidupan seorang pemuda bernama Bujang. Plot Cerita Novel ini berfokus pada kehidupan Bujang, seorang pemuda yang memiliki impian besar namun terjebak dalam rutinitas sebagai pemilik warung makan kecil yang diwariskan oleh orang tuanya. Meskipun tampaknya sederhana, kisah ini penuh dengan ketegangan emosional yang dibangun dengan baik oleh penulis. Bujang, yang merupakan karakter utama, harus menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam hidupnya, antara mempertahankan usaha warung keluarganya atau mengejar impian pribadinya. Cerita berkembang dengan memperkenalkan berbagai karakter pendu...

Resensi Buku - Fara Salma

  Rahasia Tentang Anak Tengah Judul : Iyan Bukan Anak Tengah Penulis :Armaraher Penerbit : Skuad Tahun: 2023 Tebal: 292 halaman ISBN: 978-633-09-1845-2   Sinopsis Riyan selalu berharap berada di tengah-tengah keluarganya yang hangat, dianggap ada sekaligus disayangi sebagaimana yang Abang dan Adiknya rasakan, tetapi bukan semata-mata kehadirannya ada hanya karena dibutuhkan saja. Di usianya yang baru menginjak remaja, seharusnya Riyan bisa menghabiskan waktu untuk menemukan hal baru di hidupnya, bukan merasakan beban dan luka yang membuatnya berhenti di titik itu dan tidak membiarkannya tumbuh menjadi remaja normal seusianya. Riyan hanya ingin diperlakukan adil, disayangi sebagaimana mestinya, bukan dicampakkan dan dijadikan sebagai prioritas terakhir oleh orang tuanya. Kelebihan Novel ini mampu mebawa pembacanya ikut merasakan apa yang Iyan rasakan sebagai anak tengah. Penulis juga menyentuhkan isu isu tentang orangtua dalam memberi keadilan dalam anak...

Resensi Novel - Fina Zakiyatun

  Judul: Mahajana Penulis: Gigrey Penerbit: Gramedia pustaka utama  Tahun Terbit: 2020 Tebal: 456 halaman Genre: Drama Sosial, Budaya Sinopsis: Novel Mahajana karya Gigrey membawa pembaca menyelami kehidupan masyarakat adat dengan segala keunikan dan konflik yang menyertainya. Cerita ini menggambarkan bagaimana tradisi dan kearifan lokal dipertahankan di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman. Di dalamnya, ada kisah perjuangan mempertahankan nilai-nilai adat, dinamika keluarga, dan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Tokoh utama dalam cerita ini bergulat dengan dilema antara mempertahankan tradisi leluhur atau mengikuti perkembangan modern. Konflik ini tidak hanya personal tetapi juga melibatkan masyarakat luas, menjadikan Mahajana sebagai cerita yang relevan dalam menggambarkan kondisi sosial-budaya di berbagai daerah Indonesia. Kelebihan: 1. Penggambaran Budaya yang Kuat: Gigrey berhasil membawa pembaca masuk ke dalam nuansa kehidupan masyarakat adat dengan d...