Tak Ada Siapapun yang Dapat mengubah Skenario Alam
Sang mentari menyapa rembulan dengan kilauan cahaya orange yang memanjakan sang netra, serta bayu yang terus mengajak rerumputan menari nari. Elmanuel menikmati cumbuan tembakau dengan secangkir kopi hitam di sampingnya. ia sangat menikmati disetiap detiknya seraya memejamkan mata tuk merenungkan mimpi buruk yang terus terputar di setiap tidurnya sejak tiga hari yang lalu. Renungan itu sirna tatkala bara api membakar filter rokok yang di pegangnya, membuat ia melompat dari kursi malasnya. “Aaa panas..., sialan baru juga nyedot 3 kali udah habis aja” gumamnya sambil membersihkan abu rokok yang berjatuhan.
Elmanuel membakar rokok lagi, seraya mencoba menghubungi sahabatnya “ ah.. kemana sih, udah tiga hari di telponin ,di chat , engga pernah di bales. Di samperin juga rumahnya kosong terus..“ ucapnya kesal. Ia pun terus mencoba menghubungi temannya, tetapi hanya suara wanita yang selalu berkata “nomer yang anda hubungi sedang tidak akfif”. Ia pun melempar gawainya, pikiranya tak tenang seperti ada sesuatu yang terlupakan, semakin ia menelusuri labirin ingatan di otaknya, semakin gelisah pula rasanya
Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu kamar, Elmanuel yang mengira itu ayahnya pun berteriak “masuk aja yah,tumben ngetuk segala” . Tetapi tak ada jawaban apapun hanya ketukan pintu yang kembali terulang. Elmanuel bangkit dari kursi malasnya dan bejalan menuju pintu dengan perasaan kesal. Saat pintu terbuka dia sedikit terkejut oleh sosok yang berdiri di depan pintu, bukan sang ayah ,dia adalah Adrian Sahabat yang selalu ia tunggu tunggu kehadirannya. Adrian tersenyum sambil berkata “gausah mikirin aku el.. semua aman aja”. Elmanuel menyikapinya dengan pukulan ringan ke arah perut adrian “sialan... Kemana aja drian, dari kemarin di telponin , seleb amat” ucapnya
Di tengah asap rokok yang memenuhi kamar, dengan cahaya lampu yang sudah usang, mereka bercengkrama tak kenal waktu, saling bercerita dan saling bercanda ria. Suasana yang di nantikan oleh Elmanuel, dimana ia dapat sejenak melupakan mimpi buruk yang selalu menggentayangi dirinya di pagi hari. Di saat mereka asik bercanda pintu kamar terbuka, sang ayah masuk ke kamar dengan dahi yang mengkerut. Diam sejenak melihat sekitar, dan pergi meninggalkan kamar begitu saja. Elmanuel terheran “ kenapa yah..” teriaknya sambil berjalan ke arah pintu. Tak ada jawaban apapun, ia pun menghiraukan kelakuan aneh ayahnya. Ia menutup pintu dan kembali duduk di hadapan Adrian. “sory ya ,tau dah kenapa ayahku” ujar Elmanuel. “santai aja... El udah malem ni, aku balik dah” sahut Adrian sambil mematikan rokoknya. “Nginep lah biasanya juga nginep” ucap Elmanuel. Suasana hening sejenak, “eum boleh dah nginep untuk malem ini aja” jawab Adrian. “nah gitu dong..” sahut Elmanuel dengan sangat antusias, ia berharap dengan adanya teman, mimpi buruk itu tidak akan menghantui tidurnya
***
Sang mentari bersembunyi di balik awan kelabu, tak ada kokok ayam, bahkan angin pun enggan membuat dedauan menari. Elmanuel terbangun dengan perasaan bahagia karena mimpi itu tak datang ditidurnya, tetapi ia tidak menemukan sosok Adrian di dalam kamar “eh.. kemana Drian..tumben bangun duluan” gumamnya. Ia mencoba melihatnya di kamar mandi tapi tak ada Drian disana, ia pun turun ke lantai bawah dan bertanya kepada ibunya yang sedang memasak. “mah... Si Drian udah balik ya?” tanya Elmanuel. Mendengar itu sang ibu terkejut dan tak berkata apapun. “mah ditanyain diem aja” ucap Elmanuel. “tanya ayah mas, ibu ga lihat” jawabnya dengan tertatih-tatih
Elmanuel bergegas ke teras rumah, menghampiri sang ayah yang sedang menikmati kopi hitam di meja. Belum sempat Elmanuel bertanya Sang ayah sudah berkata “ Adrian?” dengan nada bertanya. “wih.. keren bisa nebak isi pikiran ,sakti..” sahut andrian sambil tertawa. Ayah menyuruhnya tuk duduk terlebih dahulu lalu berkata “obat yang mamah kasih ga pernah kamu minum ya..” tanya ayah. Elmanuel hanya tersipu malu ,kelakuannya di ketahui oleh sang ayah. “udah ayah duga, dari kecil memang kamu ribet kalau di suruh minum obat, nak... Ingat kejadian 10 hari yang lalu?” lanjut ayah. Elmanuel mencoba mencari lembaran lembaran ingatan di dalam otak, “emmm aku ga inget apa apa yah”ucap Elmanuel.
Sang ayah menghela nafas panjang dan, menjelaskan kepada Elmanuel, kejadian 10 hari yang lalu. “kamu berdua sama Adrian goncengan, ngebut hingga menabrak mobil di depan mu dengan kecepatan tinggi.. hingga akhirnya terjadi sebuah insiden mengerikan, Adrian yang kamu gonceng terlempar ke tengah jalan hingga terlindas oleh truk yang melaju di belakang, untungnya kamu tidak ikut terlindas hanya pendarahan hebat di kepala mu karena terbentur body belakang mobil, membuat mu koma selama satu minggu nak...” ucap ayah. Elmanuel terdiam seribu bahasa, tak percaya hal itu terjadi, karena kemarin ia merasa Adrian ada dikamarnya.
“kata dokter, karena benturn keras di kepala mu ,membuat sebagian saraf otak mu terganggu yang mengakibatkan beberapa ingatan mu hilang. Tapi ada kemungkinan kamu mengingat semua hal itu, hanya saja kamu yang merasa bersalah atas kematian Adrian, mencoba menghidupkan Adrian di dalam pikiranmu sehingga otakmu memutarkan kenangan bersama Adrian saat di dalam kamar dengan sangat nyata” Lanjut ayah
Lembaran ingatan yang hilang, berhasil di raih oleh Elmanuel, mengingat semenit sebelum kejadian mengerikan terjadi, tanpa sadar matanya tak kuasa menahan luapan air mata, yang perlahan mengalir di atas pipi. “nak kamu boleh merasa bersalah, tetapi kamu harus menerima kenyataan dengan ikhlas, bukannya kabur dari kenyataan itu dan mencoba membuat kenyataan yang indah di balik pikiran mu, percayalah jika kamu terus berlari rasa sakit itu akan terus berlari bersama mu, meskipun kamu berlari seperti cheetah sekalipun”lanjut ayah sambil sambil memberikan sebatang rokok dan korek “tenangkan pikiran mu, ayah tinggal kedalam dulu”
Di waktu bersamaan sang langit pun ikut menangis, sang bayu pun membuat dedaunan menunduk bak seorang yang sedang termenung didalam heningan cipta. Apa dayanya Elmanuel berlalri dari kenyataan, jikalau skenario alam tak dapat di ganggu gugat.
Cupang
unsur intrinsik:
Tema: rasa bersalah
Alur: maju
Tokoh: Elmanuel,Ayah,Adrian,Ibu
Sudut pandang: ketiga
Pesan moral: kabur dari kenyataan yang pahit tidak akan mengubah kenyataan itu menjadi manis
Latar: rumah
Unsur Ekstrinsik:
-nilai kehidupan
-nilai moral
-nilai sosial
Komentar
Posting Komentar