PERJUANGAN YANG SULIT
Riko duduk di pinggir sungai sebuah tempat yang sudah menjadi rutinitasnya setiap sore. Sekelilingnya, asap rokok menghiasi udara di sekitar sungai. Semua teman-temannya sesama perokok, tampak nyaman menikmati cerutu dan rokok mereka, seolah tidak ada yang salah dengan kebiasaan itu.
"Riko, rokoknya mana?" tanya Ardi, sahabatnya yang duduk di bawah pohon sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.
Riko hanya tersenyum pahit mencoba menghindari pandangan Ardi yang penasaran. Ia sudah berusaha beberapa kali untuk berhenti merokok, namun lingkungan tempat ia tinggal dan berkumpul selalu mengujinya. Setiap kali ia berniat untuk berhenti, asap rokok di sekitarnya membuatnya merasa seperti sedang terperangkap dalam kebiasaan yang sulit diputuskan. Lingkungan yang begitu mendukung kebiasaan buruk itu seakan tak memberi kesempatan bagi Riko untuk melepaskan diri.
"Satu saja," Ardi menggoda. "Biar nanti kita bisa bersantai sambil ngobrol."
Riko menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, pada dasarnya, tak ada yang benar-benar peduli dengan keputusannya untuk berhenti merokok. Teman-temannya, dan keluarganya hanya melihatnya sebagai "bagian dari grup". Tidak ada yang menganggap serius keinginannya untuk berubah. Semua orang di sekitarnya terus merokok seakan itu adalah bagian dari hidup yang tak bisa dipisahkan.
Namun, di dalam hatinya, Riko tahu bahwa ia harus berjuang. Ia ingat kembali kata-kata dokter beberapa bulan lalu yang mengatakan bahwa paru-parunya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat kebiasaannya itu. Bahkan tubuhnya yang dulu kuat dan sehat, kini terasa lebih lelah dan mudah sesak.
"Satu batang saja tidak akan membuatmu mati," kata Ardi lagi, mematahkan lamunannya.
Riko menunduk, menggigit bibirnya. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mengikuti perkataan Ardi, untuk sekadar menikmati rokok yang ditawarkan. Tetapi saat itu, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia coba sebelumnya: menolak. Perlahan ia meletakkan tangan yang hampir meraih rokok itu di meja.
"Aku berhenti," ucapnya dengan suara pelan, namun tegas.
Semua orang di sekitarnya terdiam seolah terkejut dengan keputusan yang mendalam itu. Teman-temannya saling bertukar pandang, seolah tak percaya dengan kata-kata Riko.
"Apa? Serius?" tanya Ardi, masih tidak percaya.
Riko mengangguk, menguatkan hatinya. "Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku harus melakukannya. Aku tak mau terus seperti ini, hidup dalam asap yang tak pernah habis."
Minggu-minggu pertama setelah itu sangat berat. Setiap kali Riko bermain dengan teman-temannya rokok seakan mengejarnya. Ia merasa terisolasi, dan godaan itu datang tanpa henti. Teman-temannya tidak pernah berhenti menawarkan rokok, mencemooh dengan kata-kata seperti, "Coba lagi, pasti bisa."
Namun, ia tidak menyerah. Ia mulai membawa permen ke mana-mana, menggantikan kebiasaan merokok dengan memakan permen setiap kali ada dorongan untuk merokok. Ia juga mulai berjalan kaki di sore hari untuk mengalihkan pikirannya. Perlahan-lahan, rasa cemas dan stres yang dulu ia redakan dengan rokok mulai tergantikan dengan aktivitas yang lebih sehat. Meski kadang terasa seperti ada kekosongan, ia belajar untuk menghadapinya dengan cara baru.
Suatu hari, beberapa bulan setelah ia berhenti merokok, Riko duduk kembali di sungai. Namun kali ini, ia tidak lagi dikelilingi oleh asap rokok. Teman-temannya terkejut melihat Riko yang tampak lebih segar dan bersemangat.
"Apa yang terjadi dengan kamu?" tanya Ardi, melihat perubahan pada sahabatnya.
Riko tersenyum, merasakan kebanggaan dalam dirinya. "Aku sudah berhenti. Aku merasa jauh lebih baik sekarang. Aku bisa bernafas lebih lega."
Riko tahu, meskipun lingkungan di sekitarnya belum berubah sepenuhnya, ia telah membuat keputusan yang benar untuk dirinya sendiri. Ia tidak lagi terjebak dalam lingkaran asap yang tak berujung. Dengan tekad yang kuat dan kebiasaan baru, ia merasa hidupnya mulai kembali ke jalur yang lebih sehat.
Hari itu, ia tidak merokok. Dan setiap hari setelahnya, ia berusaha untuk tidak melakukannya lagi. Karena ia tahu, meskipun sulit, setiap langkah kecil menuju perubahan itu layak diperjuangkan.
NAMA= M.BASORI ALWI
KELAS= XI-7
Komentar
Posting Komentar