Langsung ke konten utama

Cerpen-M.Basori Alwi

                PERJUANGAN YANG SULIT      


Riko duduk di pinggir sungai sebuah tempat yang sudah menjadi rutinitasnya setiap sore. Sekelilingnya, asap rokok menghiasi udara di sekitar sungai. Semua teman-temannya sesama perokok, tampak nyaman menikmati cerutu dan rokok mereka, seolah tidak ada yang salah dengan kebiasaan itu.

"Riko, rokoknya mana?" tanya Ardi, sahabatnya yang duduk di bawah pohon sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

Riko hanya tersenyum pahit mencoba menghindari pandangan Ardi yang penasaran. Ia sudah berusaha beberapa kali untuk berhenti merokok, namun lingkungan tempat ia tinggal dan berkumpul selalu mengujinya. Setiap kali ia berniat untuk berhenti, asap rokok di sekitarnya membuatnya merasa seperti sedang terperangkap dalam kebiasaan yang sulit diputuskan. Lingkungan yang begitu mendukung kebiasaan buruk itu seakan tak memberi kesempatan bagi Riko untuk melepaskan diri.

"Satu saja," Ardi menggoda. "Biar nanti kita bisa bersantai sambil ngobrol."

Riko menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, pada dasarnya, tak ada yang benar-benar peduli dengan keputusannya untuk berhenti merokok. Teman-temannya, dan keluarganya hanya melihatnya sebagai "bagian dari grup". Tidak ada yang menganggap serius keinginannya untuk berubah. Semua orang di sekitarnya terus merokok seakan itu adalah bagian dari hidup yang tak bisa dipisahkan.

Namun, di dalam hatinya, Riko tahu bahwa ia harus berjuang. Ia ingat kembali kata-kata dokter beberapa bulan lalu yang mengatakan bahwa paru-parunya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat kebiasaannya itu. Bahkan tubuhnya yang dulu kuat dan sehat, kini terasa lebih lelah dan mudah sesak.

"Satu batang saja tidak akan membuatmu mati," kata Ardi lagi, mematahkan lamunannya.

Riko menunduk, menggigit bibirnya. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mengikuti perkataan Ardi, untuk sekadar menikmati rokok yang ditawarkan. Tetapi saat itu, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia coba sebelumnya: menolak. Perlahan ia meletakkan tangan yang hampir meraih rokok itu di meja.

"Aku berhenti," ucapnya dengan suara pelan, namun tegas.

Semua orang di sekitarnya terdiam seolah terkejut dengan keputusan yang mendalam itu. Teman-temannya saling bertukar pandang, seolah tak percaya dengan kata-kata Riko.

"Apa? Serius?" tanya Ardi, masih tidak percaya.

Riko mengangguk, menguatkan hatinya. "Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku harus melakukannya. Aku tak mau terus seperti ini, hidup dalam asap yang tak pernah habis."

Minggu-minggu pertama setelah itu sangat berat. Setiap kali Riko bermain dengan teman-temannya rokok seakan mengejarnya. Ia merasa terisolasi, dan godaan itu datang tanpa henti. Teman-temannya tidak pernah berhenti menawarkan rokok, mencemooh dengan kata-kata seperti, "Coba lagi, pasti bisa."

Namun, ia tidak menyerah. Ia mulai membawa permen ke mana-mana, menggantikan kebiasaan merokok dengan memakan permen setiap kali ada dorongan untuk merokok. Ia juga mulai berjalan kaki di sore hari untuk mengalihkan pikirannya. Perlahan-lahan, rasa cemas dan stres yang dulu ia redakan dengan rokok mulai tergantikan dengan aktivitas yang lebih sehat. Meski kadang terasa seperti ada kekosongan, ia belajar untuk menghadapinya dengan cara baru.

Suatu hari, beberapa bulan setelah ia berhenti merokok, Riko duduk kembali di sungai. Namun kali ini, ia tidak lagi dikelilingi oleh asap rokok. Teman-temannya terkejut melihat Riko yang tampak lebih segar dan bersemangat.

"Apa yang terjadi dengan kamu?" tanya Ardi, melihat perubahan pada sahabatnya.

Riko tersenyum, merasakan kebanggaan dalam dirinya. "Aku sudah berhenti. Aku merasa jauh lebih baik sekarang. Aku bisa bernafas lebih lega."

Riko tahu, meskipun lingkungan di sekitarnya belum berubah sepenuhnya, ia telah membuat keputusan yang benar untuk dirinya sendiri. Ia tidak lagi terjebak dalam lingkaran asap yang tak berujung. Dengan tekad yang kuat dan kebiasaan baru, ia merasa hidupnya mulai kembali ke jalur yang lebih sehat.

Hari itu, ia tidak merokok. Dan setiap hari setelahnya, ia berusaha untuk tidak melakukannya lagi. Karena ia tahu, meskipun sulit, setiap langkah kecil menuju perubahan itu layak diperjuangkan.

NAMA= M.BASORI ALWI

KELAS= XI-7

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku - Wirda Tsaniya

  Nama: Wirda Tsaniya Sahla Kelas: XI-7 Tugas: Resensi Novel Warung Bujang Karya Jessica Carmelia Warung Bujang adalah novel karya Jessica Carmelia yang mengangkat tema kehidupan remaja dengan latar belakang kehidupan sehari-hari di sebuah warung kecil. Novel ini menggambarkan kisah tentang harapan, impian, dan hubungan antar manusia, yang diwarnai dengan berbagai konflik dan dinamika yang terjadi dalam kehidupan seorang pemuda bernama Bujang. Plot Cerita Novel ini berfokus pada kehidupan Bujang, seorang pemuda yang memiliki impian besar namun terjebak dalam rutinitas sebagai pemilik warung makan kecil yang diwariskan oleh orang tuanya. Meskipun tampaknya sederhana, kisah ini penuh dengan ketegangan emosional yang dibangun dengan baik oleh penulis. Bujang, yang merupakan karakter utama, harus menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam hidupnya, antara mempertahankan usaha warung keluarganya atau mengejar impian pribadinya. Cerita berkembang dengan memperkenalkan berbagai karakter pendu...

Resensi Buku - Fara Salma

  Rahasia Tentang Anak Tengah Judul : Iyan Bukan Anak Tengah Penulis :Armaraher Penerbit : Skuad Tahun: 2023 Tebal: 292 halaman ISBN: 978-633-09-1845-2   Sinopsis Riyan selalu berharap berada di tengah-tengah keluarganya yang hangat, dianggap ada sekaligus disayangi sebagaimana yang Abang dan Adiknya rasakan, tetapi bukan semata-mata kehadirannya ada hanya karena dibutuhkan saja. Di usianya yang baru menginjak remaja, seharusnya Riyan bisa menghabiskan waktu untuk menemukan hal baru di hidupnya, bukan merasakan beban dan luka yang membuatnya berhenti di titik itu dan tidak membiarkannya tumbuh menjadi remaja normal seusianya. Riyan hanya ingin diperlakukan adil, disayangi sebagaimana mestinya, bukan dicampakkan dan dijadikan sebagai prioritas terakhir oleh orang tuanya. Kelebihan Novel ini mampu mebawa pembacanya ikut merasakan apa yang Iyan rasakan sebagai anak tengah. Penulis juga menyentuhkan isu isu tentang orangtua dalam memberi keadilan dalam anak...

Resensi Novel - Fina Zakiyatun

  Judul: Mahajana Penulis: Gigrey Penerbit: Gramedia pustaka utama  Tahun Terbit: 2020 Tebal: 456 halaman Genre: Drama Sosial, Budaya Sinopsis: Novel Mahajana karya Gigrey membawa pembaca menyelami kehidupan masyarakat adat dengan segala keunikan dan konflik yang menyertainya. Cerita ini menggambarkan bagaimana tradisi dan kearifan lokal dipertahankan di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman. Di dalamnya, ada kisah perjuangan mempertahankan nilai-nilai adat, dinamika keluarga, dan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Tokoh utama dalam cerita ini bergulat dengan dilema antara mempertahankan tradisi leluhur atau mengikuti perkembangan modern. Konflik ini tidak hanya personal tetapi juga melibatkan masyarakat luas, menjadikan Mahajana sebagai cerita yang relevan dalam menggambarkan kondisi sosial-budaya di berbagai daerah Indonesia. Kelebihan: 1. Penggambaran Budaya yang Kuat: Gigrey berhasil membawa pembaca masuk ke dalam nuansa kehidupan masyarakat adat dengan d...