Langsung ke konten utama

CERPEN MOCH.IKHYA' ULUMUDDIN

 

Janji yang Terlupakan

 

Dewi menatap foto yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurnya. Foto itu menunjukkan dirinya bersama seseorang yang kini sudah lama tidak ia temui, Ardi. Mereka tersenyum lebar di tengah hamparan bunga di taman belakang rumah, hari itu adalah hari kelulusan mereka. Janji yang mereka buat saat itu masih terngiang di benaknya, seperti baru terjadi kemarin.

"Suatu hari, kita akan sukses bersama, Dewi. Aku janji, kita akan selalu ada satu sama lain," kata Ardi dengan mata berbinar-binar saat itu. Dewi hanya tersenyum, meskipun dalam hatinya ada rasa cemas. Mereka berdua sudah berjanji untuk tidak saling meninggalkan, apapun yang terjadi.

Namun, janji itu terasa semakin jauh seiring berjalannya waktu. Setelah kelulusan, Ardi melanjutkan studi di luar negeri, sementara Dewi memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan lokal. Mereka berjanji untuk saling mengabari, berbagi cerita, dan menjaga komunikasi meski jarak memisahkan. Tapi seiring waktu, pesan-pesan mereka semakin jarang. Telepon-telepon yang dulu selalu datang tepat waktu, kini tak pernah lagi terdengar. Dewi pun mulai meragukan janji itu, meski ia tetap berharap.

Pagi itu, Dewi duduk di meja makan, memandangi secangkir kopi yang telah lama dingin. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa indah bersama Ardi. Hari-hari yang penuh tawa dan harapan. Namun kini, setelah lebih dari dua tahun berlalu, ia tak tahu lagi kabar Ardi. Pesan terakhir yang mereka tukar hanya berisi, "Aku akan kembali suatu saat nanti, jangan khawatir."

Dewi merasa sepi. Hari-harinya penuh dengan rutinitas yang monoton. Ia sudah belajar untuk hidup tanpa Ardi, tapi rasa kehilangan itu tetap ada. Janji itu, meskipun sederhana, tetap mengikat hatinya. Dewi merasa cemas, apakah Ardi benar-benar akan kembali? Ataukah janji itu hanya sebuah kata-kata manis yang terlupakan seiring waktu?

Suatu sore, saat Dewi sedang berbelanja di pasar, ia melihat seseorang yang begitu mirip dengan Ardi. Jantungnya berdebar kencang. Dewi segera mendekat, namun pria itu berjalan cepat menjauh. "Ardi?" Dewi menyebutkan nama itu dengan pelan, namun tidak ada jawaban. Ia hanya bisa berdiri terpaku, hatinya terasa sakit.

Malamnya, Dewi duduk di balkon rumahnya, memandangi bintang-bintang di langit. Janji yang dulu terasa begitu nyata kini seperti angin yang hilang tanpa jejak. Ia menyesali dirinya yang terlalu berharap. "Mungkin janji itu hanya bagian dari masa lalu," pikir Dewi. "Mungkin, aku harus belajar untuk melepaskan."

Namun, saat itu, ponselnya bergetar. Dewi melihat layar, ada pesan masuk dari nomor asing. Dengan tangan gemetar, ia membuka pesan itu. "Dewi, ini Ardi. Aku minta maaf, aku tidak bisa menepati janji itu. Tapi aku ingin kamu tahu, aku tidak pernah melupakanmu. Aku harap suatu saat nanti, kita bisa bertemu lagi."

Dewi terdiam. Air mata mengalir di pipinya, bukan karena kesedihan, tapi karena suatu pengertian yang mendalam. Janji itu, meskipun terlupakan, tetap tersimpan dalam hati mereka. Meskipun waktu telah memisahkan, ada hal-hal yang tidak akan pernah hilang.

Dewi menatap bintang di langit malam, dan dalam hatinya, ia membalas janji itu, "Suatu hari, kita akan bertemu lagi."

KARYA : MOCH.IKHYA’ULUMUDDIN XI - 7

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku - Nayla Salsabila

  Berubahnya peraturan  Judul: I'm not stupid  Penulis: Khusnul Art Penerbit: Coconut Tahun terbit: 2024 (cetakan pertama) I'm not stupid merupakan sebuah novel anak sekolah yang ditulis oleh Khusnul Art dan diterbitkan pada tahun 2024. Novel ini mengisahkan tentang perjuangan siswa sekolah oada tahun 2008. Sekolahnya bernama Magnesiam High School atau disingkat menjadi MHS. Novel ini menggambarkan secara rinci perjuangan 8 murid yang ingin merubah peraturan MHS. Karna mereka merasa sangat aneh dan ganjil dengan 8 peraturan yang ada di MHS.  Keunggulan dari novel ini mengajarkan kita agar mendengarkan pendapat orang lain. Dinovel ini kalian akan merasakan ketegangan dan sedih karna akan ada momen kehilangan untuk selamanya. Perjalanan mereka melewati rintangan yang amat berat. Kelemahan novel ini adalah, apabila orang yang membaca mudah percaya, maka ia akan terpengaruh dengan rumus karangan yang tidak masuk akal sama sekali. Juga banyak penyebar aib teman sendiri.

Resensi buku - Wirda Tsaniya

  Nama: Wirda Tsaniya Sahla Kelas: XI-7 Tugas: Resensi Novel Warung Bujang Karya Jessica Carmelia Warung Bujang adalah novel karya Jessica Carmelia yang mengangkat tema kehidupan remaja dengan latar belakang kehidupan sehari-hari di sebuah warung kecil. Novel ini menggambarkan kisah tentang harapan, impian, dan hubungan antar manusia, yang diwarnai dengan berbagai konflik dan dinamika yang terjadi dalam kehidupan seorang pemuda bernama Bujang. Plot Cerita Novel ini berfokus pada kehidupan Bujang, seorang pemuda yang memiliki impian besar namun terjebak dalam rutinitas sebagai pemilik warung makan kecil yang diwariskan oleh orang tuanya. Meskipun tampaknya sederhana, kisah ini penuh dengan ketegangan emosional yang dibangun dengan baik oleh penulis. Bujang, yang merupakan karakter utama, harus menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam hidupnya, antara mempertahankan usaha warung keluarganya atau mengejar impian pribadinya. Cerita berkembang dengan memperkenalkan berbagai karakter pendu...

Resensi Buku - Fara Salma

  Rahasia Tentang Anak Tengah Judul : Iyan Bukan Anak Tengah Penulis :Armaraher Penerbit : Skuad Tahun: 2023 Tebal: 292 halaman ISBN: 978-633-09-1845-2   Sinopsis Riyan selalu berharap berada di tengah-tengah keluarganya yang hangat, dianggap ada sekaligus disayangi sebagaimana yang Abang dan Adiknya rasakan, tetapi bukan semata-mata kehadirannya ada hanya karena dibutuhkan saja. Di usianya yang baru menginjak remaja, seharusnya Riyan bisa menghabiskan waktu untuk menemukan hal baru di hidupnya, bukan merasakan beban dan luka yang membuatnya berhenti di titik itu dan tidak membiarkannya tumbuh menjadi remaja normal seusianya. Riyan hanya ingin diperlakukan adil, disayangi sebagaimana mestinya, bukan dicampakkan dan dijadikan sebagai prioritas terakhir oleh orang tuanya. Kelebihan Novel ini mampu mebawa pembacanya ikut merasakan apa yang Iyan rasakan sebagai anak tengah. Penulis juga menyentuhkan isu isu tentang orangtua dalam memberi keadilan dalam anak...