Langsung ke konten utama

Cerpen - Rahmalita Putri

 


Mengejar Proses

Langkah ini tak pernah terlintas dalam benakku sebelumnya. Sebagai seorang siswi yang selalu menjadi penonton, tiba-tiba aku dihadapkan pada sebuah kompetisi besar yang bernama GBQN X 2024. GBQN X 2024 (Gebyar Brawijaya Qur’ani Nasional) merupakan event bagi generasi Qur’ani yang dilaksanakan dua tahun sekali yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya.

Suatu malam, telepon dari Bu Nisa, pembina ekstrakurikuler di sekolah, mengejutkanku. Tanpa ragu, aku langsung menjawab panggilannya. "Assalamualaikum, Eca, mau ikut lomba KTI?" tanyanya singkat. Aku terdiam sejenak, mencoba memikirkan jawaban terbaik. "Waalaikumsalam, Bu Nisa. Boleh, Bu, tapi temanya berat nggak, ya?" Pertanyaan itu muncul spontan, karena aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang lomba yang disebutnya.

Tanpa diduga, lomba tersebut adalah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur'an (KTIA), yang mengharuskan penulisan karya ilmiah dengan rujukan utama dari ayat-ayat Al-Qur'an. Sebagai seseorang tanpa pengalaman menulis karya tulis ilmiah, aku merasa bingung. Apalagi aku tidak pernah belajar di pesantren atau memiliki dasar kuat dalam ilmu agama. Perasaan cemas menyelimuti pikiranku. "Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau aku tidak bisa mengikuti arusnya?" pikirku.

Namun, rasa syukur mengiringi kegelisahanku ketika mengetahui dua anggota timku adalah senior di sekolah. Aku merasa sedikit lega karena mereka lebih berpengalaman. Dengan demikian, aku bisa mengikuti instruksi mereka dan berkontribusi dengan segenap usaha ku. 

Kami sering berkumpul membahas setiap bagian dari karya tulis ilmiah kami. Prosesnya penuh tantangan. Terkadang kami memiliki beragam pendapat mengenai sudut pandang yang tepat, dan aku merasa cemas apakah kami bisa selesai tepat waktu. Namun, dalam setiap diskusi, aku belajar sesuatu yang baru. Teman-teman senior yang lebih berpengalaman membagikan hal hal baru yang sebelumnya yang tidak aku ketahui. 

Akhirnya, setelah berbagai revisi judul dan isi, karya kami selesai tepat waktu. Seperti beban yang terangkat dari pundakku, perasaan bingung dan cemas yang sempat kami alami kini telah terlewati. Kami tidak pernah merasa begitu dekat dan saling memahami seperti saat itu. Harapan kami kini tertuju pada pengumuman daftar finalis.

Ketika daftar itu akhirnya dibagikan, perasaan haru dan bahagia membanjiri hatiku. Aku tidak bisa menahan senyumku ketika melihat nama tim kami tertera di daftar peraih finalis. Semua keraguan yang sempat mengiringi perjalanan ini mendadak hilang. Kami berhasil! Di tengah kebahagiaan itu, aku teringat betapa beratnya perjalanan ini, namun sekaligus aku merasa sangat bangga dengan pencapaian kami.

Namun, perjuangan kami belum berakhir. Sebagai finalis, kami diberi berbagai tugas tambahan yang harus diselesaikan dalam waktu relatif singkat. Tak hanya mengerjakan tugas, kami pun harus menghafal dan berlatih presentasi tanpa henti sepanjang hari. Setiap latihan, aku merasa semakin gugup. Meskipun teman-temanku sangat membantu, aku tak bisa menahan ketegangan yang muncul setiap kali membayangkan berhadapan dengan juri.Meskipun sudah berlatih selama berhari-hari, rasa gugup tetap muncul setiap kali memikirkan presentasi di depan juri. Kami terus mempersiapkan diri dengan menghafal materi, berdiskusi, dan melakukan simulasi presentasi berulang kali. Hari yang dinanti pun tiba. Kami berangkat ke Universitas Brawijaya dengan perasaan campur aduk. Setibanya di kampus, suasana yang ramai semakin menambah kecemasan. Ketegangan semakin terasa saat kami menunggu giliran presentasi. "Ini beneran udah waktunya, ya? Rasanya… nggak percaya bisa sampai sini.” Ucapku, mencoba menenangkan diriku sendiri.. "Iya, ini momen kita. Jangan lupa, kamu sudah berusaha keras. Kita semua sudah berlatih bareng, dan itu yang penting. Kita pasti bisa." Jawab salah satu temanku dengan penuh keyakinan. "Jangan takut, yang penting percaya diri dan sampaikan dengan tenang. Semua akan baik-baik saja." Tambah temanku yang lain, berusaha menenangkan dan memberi semangat. "Terima kasih, kalian! Aku akan coba yang terbaik. Semoga kita bisa memberikan yang terbaik di hadapan juri."

Saat giliran kami tiba, perasaan cemas semakin menggebu. Kami berjalan menuju meja presentasi, dan pandangan para juri yang serius menambah ketegangan.

Presentasi kami dimulai pada urutan ke-9, sekitar pukul setengah dua siang. Kami melangkah maju dengan penuh harapan, meskipun di dalam hati, perasaan cemas dan tegang masih terasa. Saat juri mulai memberikan pertanyaan, aku merasakan ketegangan yang luar biasa. Salah seorang juri tampaknya mengkritik hampir setiap peserta yang tampil, dan kami tidak luput dari evaluasinya. Penjelasan yang kami berikan mendapat tanggapan yang cukup keras, membuat kami merasa terpojok. Namun, meskipun tekanan dari juri itu terasa berat, kami tetap berusaha menyelesaikan presentasi dengan sebaik-baiknya.

Keesokan harinya, pengumuman juara dilakukan melalui streaming, dan kami menontonnya dari rumah masing-masing. Walaupun kami tidak berada di tempat yang sama, rasa tegang dan harapan kami tetap terhubung. Kami berkumpul secara virtual, menunggu kabar dari teman yang menyaksikan pengumuman secara langsung. Ketegangan semakin terasa saat nama-nama pemenang diumumkan satu per satu. Ketika nama kami tidak disebutkan, perasaan kecewa sempat menyelimuti. Kami memang tidak memenangkan kompetisi ini, tetapi perjalanan ini telah mengajarkan banyak hal. Kalah dalam kompetisi ini bukanlah akhir dari segalanya. Justru, kami merasa lebih kaya akan pengalaman dan pembelajaran yang luar biasa.

Pengalaman ini memberikan banyak pelajaran berharga, terutama pengalaman mengikuti sebuah kompetensi kompetisi antar tim untuk pertama kalinya. Bergabung menjadi peserta dalam GBQN X bukan hanya tentang bagaimana menulis karya ilmiah dengan rujukan Al-Qur'an, tetapi juga tentang bagaimana bekerja sama dalam tim, mengatasi rasa takut, dan mengelola tekanan. Kompetisi ini tidak hanya tentang memenangkan hadiah, tetapi lebih kepada perjalanan yang membentuk kami menjadi pribadi yang lebih baik.

Dukungan dari para guru yang sabar memberikan bimbingan dan inspirasi, keluarga yang selalu mendoakan dan menyemangati di setiap proses, teman-teman yang menjadi penguat dalam situasi sulit, serta sekolah yang menyediakan wadah untuk berkembang, semuanya adalah anugerah luar biasa. Bimbingan dari tim, khususnya ketua tim yang dengan penuh dedikasi selalu mengarahkan, telah menjadi pondasi kokoh dalam menghadapi setiap tantangan yang ada.

Meskipun kami tidak menjadi pemenang utama, kami tahu bahwa kami telah memberikan yang terbaik. Keberhasilan sejati bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang perjalanan penuh makna, nilai kebersamaan, dan usaha maksimal yang telah dilakukan. Dari semua pembelajaran ini, kami merasa termotivasi untuk terus memperbaiki diri dan mengalami perkembangan dibandingkan sebelumnya. Meskipun belum sepenuhnya berkembang, tetapi tetap ada progress yang bisa terus dimaksimalkan.

UNSUR INSTRINSIK CERPEN

1. Tema : Perjuangan dalam proses pengembangan diri.

2. Alur : Maju

3. Latar

• Latar Tempat:

• Sekolah, tempat Eca dan tim berdiskusi dan berlatih.

• Universitas Brawijaya, lokasi presentasi final kompetisi.

• Rumah, tempat Eca menonton pengumuman secara daring.

• Latar Waktu:

• Malam hari (saat Eca menerima telepon dari Bu Nisa).

• Hari-hari setelah sekolah (proses diskusi dan penyusunan karya).

• Siang hari (saat presentasi final).

• Latar Suasana:

• Tegang: Terasa saat Rahma menghadapi presentasi di depan juri.

• Bahagia: Ketika karya selesai tepat waktu dan nama mereka masuk daftar finalis.

• Haru dan kecewa: Ketika hasil pengumuman tidak sesuai harapan, namun diiringi rasa syukur atas pengalaman yang didapat.

4. Tokoh dan Penokohan

• Eca (tokoh utama): Seorang siswi yang awalnya penuh keraguan, tetapi tumbuh menjadi lebih percaya diri dan bersemangat melalui proses belajar dan bekerja sama.

• Bu Nisa: Pembina yang mendukung dan memberikan motivasi kepada Rahma untuk ikut kompetisi.

• Kakak Kelas (teman tim Rahma): Dua kakak kelas yang berpengalaman, membantu Rahma dalam memahami karya ilmiah dan mendukungnya secara emosional.

• Juri: Tokoh pendukung yang mencerminkan tekanan kompetisi dengan sikap kritisnya.

5. Sudut Pandang : Orang pertama

6. Amanat

• Keberanian untuk mencoba hal baru akan membawa pengalaman berharga meskipun hasilnya tidak sesuai harapan.

• Proses belajar lebih penting daripada hasil akhir. Melalui usaha dan kerja keras, seseorang dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku - Wirda Tsaniya

  Nama: Wirda Tsaniya Sahla Kelas: XI-7 Tugas: Resensi Novel Warung Bujang Karya Jessica Carmelia Warung Bujang adalah novel karya Jessica Carmelia yang mengangkat tema kehidupan remaja dengan latar belakang kehidupan sehari-hari di sebuah warung kecil. Novel ini menggambarkan kisah tentang harapan, impian, dan hubungan antar manusia, yang diwarnai dengan berbagai konflik dan dinamika yang terjadi dalam kehidupan seorang pemuda bernama Bujang. Plot Cerita Novel ini berfokus pada kehidupan Bujang, seorang pemuda yang memiliki impian besar namun terjebak dalam rutinitas sebagai pemilik warung makan kecil yang diwariskan oleh orang tuanya. Meskipun tampaknya sederhana, kisah ini penuh dengan ketegangan emosional yang dibangun dengan baik oleh penulis. Bujang, yang merupakan karakter utama, harus menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam hidupnya, antara mempertahankan usaha warung keluarganya atau mengejar impian pribadinya. Cerita berkembang dengan memperkenalkan berbagai karakter pendu...

Resensi Buku - Fara Salma

  Rahasia Tentang Anak Tengah Judul : Iyan Bukan Anak Tengah Penulis :Armaraher Penerbit : Skuad Tahun: 2023 Tebal: 292 halaman ISBN: 978-633-09-1845-2   Sinopsis Riyan selalu berharap berada di tengah-tengah keluarganya yang hangat, dianggap ada sekaligus disayangi sebagaimana yang Abang dan Adiknya rasakan, tetapi bukan semata-mata kehadirannya ada hanya karena dibutuhkan saja. Di usianya yang baru menginjak remaja, seharusnya Riyan bisa menghabiskan waktu untuk menemukan hal baru di hidupnya, bukan merasakan beban dan luka yang membuatnya berhenti di titik itu dan tidak membiarkannya tumbuh menjadi remaja normal seusianya. Riyan hanya ingin diperlakukan adil, disayangi sebagaimana mestinya, bukan dicampakkan dan dijadikan sebagai prioritas terakhir oleh orang tuanya. Kelebihan Novel ini mampu mebawa pembacanya ikut merasakan apa yang Iyan rasakan sebagai anak tengah. Penulis juga menyentuhkan isu isu tentang orangtua dalam memberi keadilan dalam anak...

Resensi Novel - Fina Zakiyatun

  Judul: Mahajana Penulis: Gigrey Penerbit: Gramedia pustaka utama  Tahun Terbit: 2020 Tebal: 456 halaman Genre: Drama Sosial, Budaya Sinopsis: Novel Mahajana karya Gigrey membawa pembaca menyelami kehidupan masyarakat adat dengan segala keunikan dan konflik yang menyertainya. Cerita ini menggambarkan bagaimana tradisi dan kearifan lokal dipertahankan di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman. Di dalamnya, ada kisah perjuangan mempertahankan nilai-nilai adat, dinamika keluarga, dan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Tokoh utama dalam cerita ini bergulat dengan dilema antara mempertahankan tradisi leluhur atau mengikuti perkembangan modern. Konflik ini tidak hanya personal tetapi juga melibatkan masyarakat luas, menjadikan Mahajana sebagai cerita yang relevan dalam menggambarkan kondisi sosial-budaya di berbagai daerah Indonesia. Kelebihan: 1. Penggambaran Budaya yang Kuat: Gigrey berhasil membawa pembaca masuk ke dalam nuansa kehidupan masyarakat adat dengan d...