Langsung ke konten utama

cerpen- rama felisya fitri

 Ketika Diam Berbicara 

 Di sebuah kota yang indah, berdiri sebuah rumah sederhana yang berisi keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak

di suatu malam yang indah ini seorang gadis remaja berusia 17 tahun sedang duduk disebuah balkon kecil yang terletak di kamarnya sedang menikmati pemandangan kota yang indah di malam itu, gadis itu bernama Tara. ia mendapati dirinya sedang menatap keatas langit memandang bintang-bintang dan bulan sembari melamun. 

Tara selalu menghabiskan waktunya untuk duduk menyendiri di balkon kamarnya jika dia sedang dalam keadaan yang tidak menyenangkan. di malam itu, dia berpikir. sebenarnya ada apa dengan keluarganya? mengapa begitu rumit?

kediamannya itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara ayah dan ibunya yang sedang berbicara dilantai bawah, suara mereka semakin keras satu sama lain, hal ini sudah menjadi hal yang biasa bagi Tara, ya, lagi-lagi kedua orangtuanya itu bertengkar. tidak heran mengapa dia selalu tidak betah berada di "rumah". yang orang bilang katanya Tempat dimana kita dapat merasa pulang dan nyaman. Namun nyatanya Rumah tidak selalu jadi yang ternyaman. 

Tara yang sedari tadi dikamar nya mendengar suara keributan orang tuanya itu sudah sangat kesal, dia muak. tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. dia selalu ingin menyela ayah dan ibunya itu tetapi yang dia dapatkan selalu "kamu tidak usah ikut campur urusan orang tua". melihat orang tuanya bertengkar sudah menjadi makanan sehari-hari bagi nya. 

tara selalu memandangi bingkai foto keluarga disaat ia masih kecil dan wajah orang tuanya yang nampak begitu bahagia saat menggendongnya dan setetes air mata mengalir ke pipinya tanpa disadari. Tara selalu mencoba mengabaikan ketika ayah ibunya bertengkar dengan melakukan hal-hal yang dia suka, mendengarkan musik, melukis, tetapi itu tetap saja masih membuat nya merasa sedih

Di suatu malam saat dia sedang belajar didalam kamarnya, dia mendengar ayah ibunya bertengkar, lagi. kali ini dia mendengar suara tamparan keras. 

"Yang bisa kamu lakukan hanya diam saja dirumah! sama saja seperti anakmu itu, pemalas. aku selalu pulang malam, bekerja. tapi kamu selalu menuduh hal-hal buruk padaku" bentak sang ayah 

"Tidak usah membawa bawa Tara, dia tidak ada keterkaitannya!" 

"Tapi benar kan? kamu pikir tidak capek setiap kali aku pulang kerja larut malam demi keluarga tapi kamu selalu menuduh aku bersama orang lain!?" Suara orang tua nya yang saling membentak satu sama lain membuatnya tak nyaman. Tara dengan ragu-ragu memutuskan untuk bangkit dan keluar dari kamarnya dan menyaksikan kegaduhan itu. tak menunggu waktu lama ia memotong kegaduhan antara ayah ibunya itu. "berhenti!" teriak tara. "apa kalian lupa kalau aku ada di sini? apa kalian lupa kalau aku butuh keluarga, bukan rumah yang seperti ini" 

Seketika hening. ayah ibu tara mengalihkan pandangan mereka ke arah gadis yang nampak akan menangis itu. perlahan ibu tara menghampiri anak gadisnya itu dan menariknya kedalam pelukannya "Maafkan kami, nak.."  bisiknya dengan air mata yang tak bisa ditahan lagi, begitupula dengan tara yang mengalirkan air mata nya dipelukan sang ibu. 

Setelah Tara berada dalam pelukan ibunya, keduanya terdiam, membiarkan air mata mengalir tanpa kata. Meskipun pertengkaran antara Ayah dan Ibu belum sepenuhnya selesai, momen itu terasa seperti titik balik yang penting bagi mereka. Tara merasakan sesuatu yang berbeda meskipun ia merasa sangat terluka, ada harapan baru yang muncul di dalam hatinya. karena Tara tau, pada akhirnya, di balik setiap air mata dan keributan, selalu ada kesempatan untuk mulai lagi.

UNSUR INSTRINSIK:

Tema: kekeluargaan, kesedihan 

Alur: maju

Latar 

tempat: rumah, balkon 

waktu: di malam hari 

suasana: sedih 

Tokoh & penokohan:

Tara: protagonis 

Ibu: protagonis 

ayah: antagonis 

sudut pandang→ orang ketiga

Amanat: Berdamailah dengan apapun yang tidak bisa kita rubah, karena ikhlas akan selalu menjadi ending yang terbaik. setiap keributan, selalu ada kesempatan untuk mulai lagi, menjadi lebih baik. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku - Wirda Tsaniya

  Nama: Wirda Tsaniya Sahla Kelas: XI-7 Tugas: Resensi Novel Warung Bujang Karya Jessica Carmelia Warung Bujang adalah novel karya Jessica Carmelia yang mengangkat tema kehidupan remaja dengan latar belakang kehidupan sehari-hari di sebuah warung kecil. Novel ini menggambarkan kisah tentang harapan, impian, dan hubungan antar manusia, yang diwarnai dengan berbagai konflik dan dinamika yang terjadi dalam kehidupan seorang pemuda bernama Bujang. Plot Cerita Novel ini berfokus pada kehidupan Bujang, seorang pemuda yang memiliki impian besar namun terjebak dalam rutinitas sebagai pemilik warung makan kecil yang diwariskan oleh orang tuanya. Meskipun tampaknya sederhana, kisah ini penuh dengan ketegangan emosional yang dibangun dengan baik oleh penulis. Bujang, yang merupakan karakter utama, harus menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam hidupnya, antara mempertahankan usaha warung keluarganya atau mengejar impian pribadinya. Cerita berkembang dengan memperkenalkan berbagai karakter pendu...

Resensi Novel - Fina Zakiyatun

  Judul: Mahajana Penulis: Gigrey Penerbit: Gramedia pustaka utama  Tahun Terbit: 2020 Tebal: 456 halaman Genre: Drama Sosial, Budaya Sinopsis: Novel Mahajana karya Gigrey membawa pembaca menyelami kehidupan masyarakat adat dengan segala keunikan dan konflik yang menyertainya. Cerita ini menggambarkan bagaimana tradisi dan kearifan lokal dipertahankan di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman. Di dalamnya, ada kisah perjuangan mempertahankan nilai-nilai adat, dinamika keluarga, dan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Tokoh utama dalam cerita ini bergulat dengan dilema antara mempertahankan tradisi leluhur atau mengikuti perkembangan modern. Konflik ini tidak hanya personal tetapi juga melibatkan masyarakat luas, menjadikan Mahajana sebagai cerita yang relevan dalam menggambarkan kondisi sosial-budaya di berbagai daerah Indonesia. Kelebihan: 1. Penggambaran Budaya yang Kuat: Gigrey berhasil membawa pembaca masuk ke dalam nuansa kehidupan masyarakat adat dengan d...

Naskah drama- Diva Rahmatika, Fara Salma, Septia Putri, M. Haiden, Naysila Firda, Riska Syafa

Judul : Dibalik Sebuah Pertemanan. Tokoh dan penokohan : 1.        Diva (Siswa yang banyak menuduh temannya) 2.        Fara (Siswa yang menjadi ketua kelas dan penengah) 3.        Septi (Siswa yang mudah marah) 4.        Haiden (Siswa yang berani untuk mengambil uang kas) 5.        Sila (Siswa yang rajin) 6.        Riska (Bendahara kelas yang bertanggung jawab)   PROLOG : Septi, Sila, Riska, Fara, Diva, Haiden adalah teman satu kelas. Riska sebagai bendahara, Fara sebagai ketua kelas.   Latar : Kelas (Pagi hari di kelas dengan cahaya yang cerah, lagu yang semangat mengalun saat Septi berjalan memasuki kelas)   Septi : Halo guys, selamat pagi. (melambaikan tangan) Riska, Fara, Sila, Diva : Halo (Sahut bersama) Sila : Tumben jam setengah 7 udah sampe sekolah? Septi ...