Ketika Diam Berbicara
Di sebuah kota yang indah, berdiri sebuah rumah sederhana yang berisi keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak
di suatu malam yang indah ini seorang gadis remaja berusia 17 tahun sedang duduk disebuah balkon kecil yang terletak di kamarnya sedang menikmati pemandangan kota yang indah di malam itu, gadis itu bernama Tara. ia mendapati dirinya sedang menatap keatas langit memandang bintang-bintang dan bulan sembari melamun.
Tara selalu menghabiskan waktunya untuk duduk menyendiri di balkon kamarnya jika dia sedang dalam keadaan yang tidak menyenangkan. di malam itu, dia berpikir. sebenarnya ada apa dengan keluarganya? mengapa begitu rumit?
kediamannya itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara ayah dan ibunya yang sedang berbicara dilantai bawah, suara mereka semakin keras satu sama lain, hal ini sudah menjadi hal yang biasa bagi Tara, ya, lagi-lagi kedua orangtuanya itu bertengkar. tidak heran mengapa dia selalu tidak betah berada di "rumah". yang orang bilang katanya Tempat dimana kita dapat merasa pulang dan nyaman. Namun nyatanya Rumah tidak selalu jadi yang ternyaman.
Tara yang sedari tadi dikamar nya mendengar suara keributan orang tuanya itu sudah sangat kesal, dia muak. tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. dia selalu ingin menyela ayah dan ibunya itu tetapi yang dia dapatkan selalu "kamu tidak usah ikut campur urusan orang tua". melihat orang tuanya bertengkar sudah menjadi makanan sehari-hari bagi nya.
tara selalu memandangi bingkai foto keluarga disaat ia masih kecil dan wajah orang tuanya yang nampak begitu bahagia saat menggendongnya dan setetes air mata mengalir ke pipinya tanpa disadari. Tara selalu mencoba mengabaikan ketika ayah ibunya bertengkar dengan melakukan hal-hal yang dia suka, mendengarkan musik, melukis, tetapi itu tetap saja masih membuat nya merasa sedih
Di suatu malam saat dia sedang belajar didalam kamarnya, dia mendengar ayah ibunya bertengkar, lagi. kali ini dia mendengar suara tamparan keras.
"Yang bisa kamu lakukan hanya diam saja dirumah! sama saja seperti anakmu itu, pemalas. aku selalu pulang malam, bekerja. tapi kamu selalu menuduh hal-hal buruk padaku" bentak sang ayah
"Tidak usah membawa bawa Tara, dia tidak ada keterkaitannya!"
"Tapi benar kan? kamu pikir tidak capek setiap kali aku pulang kerja larut malam demi keluarga tapi kamu selalu menuduh aku bersama orang lain!?" Suara orang tua nya yang saling membentak satu sama lain membuatnya tak nyaman. Tara dengan ragu-ragu memutuskan untuk bangkit dan keluar dari kamarnya dan menyaksikan kegaduhan itu. tak menunggu waktu lama ia memotong kegaduhan antara ayah ibunya itu. "berhenti!" teriak tara. "apa kalian lupa kalau aku ada di sini? apa kalian lupa kalau aku butuh keluarga, bukan rumah yang seperti ini"
Seketika hening. ayah ibu tara mengalihkan pandangan mereka ke arah gadis yang nampak akan menangis itu. perlahan ibu tara menghampiri anak gadisnya itu dan menariknya kedalam pelukannya "Maafkan kami, nak.." bisiknya dengan air mata yang tak bisa ditahan lagi, begitupula dengan tara yang mengalirkan air mata nya dipelukan sang ibu.
Setelah Tara berada dalam pelukan ibunya, keduanya terdiam, membiarkan air mata mengalir tanpa kata. Meskipun pertengkaran antara Ayah dan Ibu belum sepenuhnya selesai, momen itu terasa seperti titik balik yang penting bagi mereka. Tara merasakan sesuatu yang berbeda meskipun ia merasa sangat terluka, ada harapan baru yang muncul di dalam hatinya. karena Tara tau, pada akhirnya, di balik setiap air mata dan keributan, selalu ada kesempatan untuk mulai lagi.
UNSUR INSTRINSIK:
Tema: kekeluargaan, kesedihan
Alur: maju
Latar
tempat: rumah, balkon
waktu: di malam hari
suasana: sedih
Tokoh & penokohan:
Tara: protagonis
Ibu: protagonis
ayah: antagonis
sudut pandang→ orang ketiga
Amanat: Berdamailah dengan apapun yang tidak bisa kita rubah, karena ikhlas akan selalu menjadi ending yang terbaik. setiap keributan, selalu ada kesempatan untuk mulai lagi, menjadi lebih baik.
Komentar
Posting Komentar