Langsung ke konten utama

Karya Ilmiah Populer - Rahmalita Putri Az Zahra

 Self-Fulfilling Prophecy : Pengaruh Ekspetasi Guru terhadap Prestasi Siswa

 

PENDAHULUAN

Setiap individu tidak dapat terlepas dari adanya harapan dalam kehidupan mereka. Dalam berbagai aktivitas yang dilakukan, harapan dan tuntutan akan selalu muncul, baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar. Dalam lingkungan akademik, harapan adalah keyakinan guru bahwa siswanya mampu meraih kesuksesan dan memiliki kemampuan untuk belajar secara mandiri.

Harapan dapat bersifat positif maupun negatif. Seorang guru dengan harapan positif yakin bahwa setiap siswa yang dibimbingnya memiliki potensi untuk berhasil. Dengan keyakinan tersebut, ia akan terus memberikan perhatian dan memanfaatkan berbagai peluang untuk mendukung keberhasilan siswanya. Sebaliknya, Ekspektasi negatif mengacu pada keyakinan bahwa upaya mengajar atau tindakan apa pun tidak akan membuahkan hasil dan justru berakhir dengan kegagalan. Pandangan ini dapat memicu rasa apatis, sehingga seorang guru menjadi enggan untuk berusaha atau melaksanakan pengajaran. Ketika seseorang meyakini bahwa ia akan gagal, ia cenderung mencari alasan serta bukti yang memperkuat keyakinan tersebut. Harapan seperti ini juga berpengaruh terhadap cara siswa melihat diri mereka sendiri, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk bertindak sejalan dengan keyakinan tersebut.

 

ISI

Kondisi seperti ini dikenal dengan self-fulfilling prophecy. Self-fulfilling prophecy dapat dikenali melalui dua bentuk utama, yaitu pygmalion effect dan golem effect. Pygmalion effect adalah fenomena di mana harapan positif yang kita berikan kepada seseorang dapat meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, dan kinerjanya, sehingga ekspektasi tersebut akhirnya benar-benar terwujud. Pygmalion effect telah terbukti secara ilmiah melalui berbagai penelitian, salah satunya yang paling terkenal adalah eksperimen Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson pada tahun 1968. Dalam penelitian ini, beberapa murid dipilih secara acak dari 18 kelas dan diberitahu kepada guru bahwa mereka memiliki potensi intelektual lebih tinggi. Hasilnya, di akhir tahun, prestasi murid-murid tersebut terbukti meningkat signifikan dibandingkan dengan murid lain di luar kelompok eksperimen.

            Sedangkan, menurut Eden (1990), golem effect terjadi ketika harapan rendah dari guru menurunkan performa siswa. Babad dan rekan (1982) menemukan bahwa siswa dengan ekspektasi rendah dari guru menunjukkan prestasi akademik yang lebih buruk dibandingkan siswa yang mendapat harapan sedang atau tinggi. Ekspektasi negatif ini menurunkan kepercayaan diri, motivasi, dan usaha belajar siswa, sehingga prestasi mereka menurun. Sikap negatif guru membuat siswa menginternalisasi citra diri yang rendah, memperkuat siklus kegagalan yang sulit diputus. Anggapan bahwa kegagalan adalah sifat bawaan siswa menyebabkan apatisme dan mengurangi kualitas pengajaran. Keyakinan akan kegagalan juga mendorong pencarian bukti yang mendukung ekspektasi tersebut, sehingga ekspektasi negatif menjadi ramalan yang terpenuhi yang dikenal dengan self-fulfilling prophecy.

 

PENUTUP

Kesimpulannya, fenomena self-fulfilling prophecy memegang peranan krusial dalam konteks pendidikan akademik. Ekspektasi tinggi dari guru terbukti dapat meningkatkan prestasi siswa, sedangkan ekspektasi rendah berasosiasi dengan penurunan kinerja akademik. Selain itu, prediksi, label, dan penilaian guru secara kolektif berkontribusi dalam terbentuknya self-fulfilling propechy yang terpenuhi pada siswa. Umpan balik serta interaksi yang diberikan guru memiliki dampak signifikan terhadap persepsi diri siswa, kondisi emosional, perilaku di lingkungan kelas, interaksi sosial, pencapaian akademik, dan kualitas hubungan antar teman sebaya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru memiliki pengaruh besar terhadap siswa mereka dalam aspek akademik, psikologis, dan sosial.

 

Daftar Pustaka

 

Asbari, M. (2015). Fokus satu hebat. Penerbit Dapur Buku.

Asbari, M. (2020). Is transformational leadership suitable for future organizational needs? International Journal of Sociology, Policy and Law (Ijospl), 1(1), 51–55.

Chandrasegaran, J., & Padmakumari, P. P. (2018). The role of self-fulfilling prophecies in education: Teacher-student perceptions.

Jenah, M., Fernandez, I. D. T., Sumarni, N., Asbari, M., Agusna, S., & Ramayanti, N. (2023). Pygmalion effect: Esensi ekspektasi positif terhadap keberhasilan. Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan, 1(2).

Eden, D. (1990). Pygmalion in management. Toronto: Lexington Books.

Rosenthal, R., & Jacobson, L. (1968). Pygmalion in the classroom. The Urban Review, 3(1), 16–20.

Rowe, W. G., & O’Brien, J. (2002). The role of Golem, Pygmalion, and Galatea effects on opportunistic behavior in the classroom. Journal of Management Education, 26(6), 612–628.

Wong, H. K., & Wong, R. T. (1999). The first days of school: How to be an effective teacher. Harry K. Wong Publications.

 

ANALISIS KEBAHASAAN

1.     Kalimat Pasif

a.     Kondisi seperti ini dikenal dengan self-fulfilling prophecy.

b.     Pygmalion effect telah terbukti secara ilmiah melalui berbagai penelitian.

c.     Dalam penelitian ini, beberapa murid dipilih secara acak dari 18 kelas dan diberitahu kepada guru bahwa mereka memiliki potensi intelektual lebih tinggi.

 

2.     Bahasa Reproduktif

a.     Menurut Eden (1992), golem effect terjadi ketika harapan rendah dari guru menurunkan performa siswa.

b.     Pygmalion effect telah terbukti secara ilmiah melalui berbagai penelitian, salah satunya yang paling terkenal adalah eksperimen Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson pada tahun 1968. 

c.     Babad dan rekan (1982) menemukan bahwa siswa dengan ekspektasi rendah dari guru menunjukkan prestasi akademik yang lebih buruk dibandingkan siswa yang mendapat harapan sedang atau tinggi.


3.     Bahasa Denotatif

a.     Harapan

b.     Akademik

c.     Golem effect

d.     Pygmalion effect

e.     Self-fulfilling propechy

f.      Etc.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku - Nayla Salsabila

  Berubahnya peraturan  Judul: I'm not stupid  Penulis: Khusnul Art Penerbit: Coconut Tahun terbit: 2024 (cetakan pertama) I'm not stupid merupakan sebuah novel anak sekolah yang ditulis oleh Khusnul Art dan diterbitkan pada tahun 2024. Novel ini mengisahkan tentang perjuangan siswa sekolah oada tahun 2008. Sekolahnya bernama Magnesiam High School atau disingkat menjadi MHS. Novel ini menggambarkan secara rinci perjuangan 8 murid yang ingin merubah peraturan MHS. Karna mereka merasa sangat aneh dan ganjil dengan 8 peraturan yang ada di MHS.  Keunggulan dari novel ini mengajarkan kita agar mendengarkan pendapat orang lain. Dinovel ini kalian akan merasakan ketegangan dan sedih karna akan ada momen kehilangan untuk selamanya. Perjalanan mereka melewati rintangan yang amat berat. Kelemahan novel ini adalah, apabila orang yang membaca mudah percaya, maka ia akan terpengaruh dengan rumus karangan yang tidak masuk akal sama sekali. Juga banyak penyebar aib teman sendiri.

Resensi buku - Wirda Tsaniya

  Nama: Wirda Tsaniya Sahla Kelas: XI-7 Tugas: Resensi Novel Warung Bujang Karya Jessica Carmelia Warung Bujang adalah novel karya Jessica Carmelia yang mengangkat tema kehidupan remaja dengan latar belakang kehidupan sehari-hari di sebuah warung kecil. Novel ini menggambarkan kisah tentang harapan, impian, dan hubungan antar manusia, yang diwarnai dengan berbagai konflik dan dinamika yang terjadi dalam kehidupan seorang pemuda bernama Bujang. Plot Cerita Novel ini berfokus pada kehidupan Bujang, seorang pemuda yang memiliki impian besar namun terjebak dalam rutinitas sebagai pemilik warung makan kecil yang diwariskan oleh orang tuanya. Meskipun tampaknya sederhana, kisah ini penuh dengan ketegangan emosional yang dibangun dengan baik oleh penulis. Bujang, yang merupakan karakter utama, harus menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam hidupnya, antara mempertahankan usaha warung keluarganya atau mengejar impian pribadinya. Cerita berkembang dengan memperkenalkan berbagai karakter pendu...

Resensi buku - Septia Fitri

  “14 Hari yang Mengubah Hidup: Perjalanan Emosional Bersama Isabella” Judul: 14 Days Isabella Penulis: Caramel Penerbit: Platform independen (cerita ini awalnya diadaptasi dari Alternate Universe) Genre: Drama, Fiksi Remaja Novel ini menceritakan perjuangan Isabella Seva Amorita, seorang gadis berusia 16 tahun, untuk mendapatkan kasih sayang dari keluarganya yang selama ini membencinya. Ayahnya, Angga, menyalahkannya atas kematian ibunya saat melahirkan, dan kedua kakaknya, Gara dan Bara, juga memperlakukan Isabella dengan dingin. Hidupnya semakin sulit dengan kehadiran Anvaya, saudara tirinya, yang sering merundungnya. Meski dikelilingi oleh kebencian, Isabella tetap berusaha mendapatkan cinta dari keluarganya dalam waktu 14 hari sebelum ulang tahunnya. Dalam perjalanan ini, ia bertemu Menara Kaif Jaendra, seorang teman yang memberikan harapan baru, meski hubungan ini memicu kecemburuan Anvaya. Isabella menghadapi semua konflik ini sambil berjuang melawan penyakit jantung bawaan,...