Langsung ke konten utama

Karya ilmiah populer - rama felisya f

 Dampak Kondisi Emosional terhadap Prestasi Akademik

Pendahuluan 

Kita sering berpikir bahwa belajar hanya soal logika, hafalan, dan kemampuan akademik. Namun, pada kenyataannya, emosi memiliki peran besar dalam proses belajar. Rasa senang, takut, bosan, atau stres dapat mempengaruhi cara otak kita memproses informasi. Sayangnya, banyak pelajar dan pendidik yang belum menyadari pentingnya faktor emosional dalam dunia pendidikan

Isi

Emosi Bukan Pengganggu, Tapi Pendukung Belajar— Menurut Daniel Goleman (1995), pakar psikologi yang mempopulerkan konsep Kecerdasan Emosional, kecerdasan emosional sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual. Ia menyebutkan bahwa emosi dapat memperkuat atau justru menghambat kemampuan seseorang untuk fokus, menyelesaikan masalah, dan menghadapi tantangan akademik. Saat seseorang merasa senang atau antusias, otaknya melepaskan hormon yang memperkuat koneksi neuron—hal ini membuat proses belajar menjadi lebih efektif. Sebaliknya, saat stres atau cemas, bagian otak yang bertanggung jawab untuk berpikir jernih justru terganggu. Makanya, pelajar yang terlalu takut saat ujian bisa jadi “blank” meskipun sudah belajar. 

Dampak Emosi Negatif di Sekolah antara lain:

Kecemasan berlebihan terhadap nilai dan ujian

Rasa minder— Menurunkan kepercayaan diri dan motivasi belajar

Takut gagal sehingga enggan mencoba hal baru

Bagaimana Membangun Lingkungan Belajar yang Sehat Emosional?

1. Guru perlu menciptakan suasana aman dan mendukung.

2. Pelajar perlu belajar mengenali dan mengelola emosinya.

3. Mengapresiasi usaha siswa, bukan hanya hasil.

Dengan pendekatan ini, pelajar bisa lebih nyaman mengekspresikan diri, merasa dihargai, dan berani mencoba meski takut gagal.

Penutup 

Belajar itu bukan cuma soal otak, tapi juga soal hati. Emosi memainkan peran penting dalam membentuk cara kita memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan. Dengan mengenali dan mengelola emosi dengan baik, pelajar dapat meraih hasil belajar yang lebih maksimal, serta tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional. 

Daftar pustaka 

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam Books.

Pekrun, R., Goetz, T., Titz, W., & Perry, RP (2002). Emosi akademis dalam pembelajaran dan prestasi yang diatur sendiri oleh siswa: Sebuah program penelitian kualitatif dan kuantitatif. Psikolog Pendidikan, 37(2), 91–105.

Analisis kebahasaan:

Bahasa reproduktif: “Menurut Daniel Goleman (1995), emosi dapat memperkuat atau menghambat kemampuan seseorang untuk fokus dan mengingat pelajaran.”

Bahasa denotatif: “Emosi seperti rasa senang, cemas, takut, atau bahkan bosan sangat memengaruhi cara otak memproses dan mengingat informasi.”

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku - Wirda Tsaniya

  Nama: Wirda Tsaniya Sahla Kelas: XI-7 Tugas: Resensi Novel Warung Bujang Karya Jessica Carmelia Warung Bujang adalah novel karya Jessica Carmelia yang mengangkat tema kehidupan remaja dengan latar belakang kehidupan sehari-hari di sebuah warung kecil. Novel ini menggambarkan kisah tentang harapan, impian, dan hubungan antar manusia, yang diwarnai dengan berbagai konflik dan dinamika yang terjadi dalam kehidupan seorang pemuda bernama Bujang. Plot Cerita Novel ini berfokus pada kehidupan Bujang, seorang pemuda yang memiliki impian besar namun terjebak dalam rutinitas sebagai pemilik warung makan kecil yang diwariskan oleh orang tuanya. Meskipun tampaknya sederhana, kisah ini penuh dengan ketegangan emosional yang dibangun dengan baik oleh penulis. Bujang, yang merupakan karakter utama, harus menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam hidupnya, antara mempertahankan usaha warung keluarganya atau mengejar impian pribadinya. Cerita berkembang dengan memperkenalkan berbagai karakter pendu...

Resensi Buku - Fara Salma

  Rahasia Tentang Anak Tengah Judul : Iyan Bukan Anak Tengah Penulis :Armaraher Penerbit : Skuad Tahun: 2023 Tebal: 292 halaman ISBN: 978-633-09-1845-2   Sinopsis Riyan selalu berharap berada di tengah-tengah keluarganya yang hangat, dianggap ada sekaligus disayangi sebagaimana yang Abang dan Adiknya rasakan, tetapi bukan semata-mata kehadirannya ada hanya karena dibutuhkan saja. Di usianya yang baru menginjak remaja, seharusnya Riyan bisa menghabiskan waktu untuk menemukan hal baru di hidupnya, bukan merasakan beban dan luka yang membuatnya berhenti di titik itu dan tidak membiarkannya tumbuh menjadi remaja normal seusianya. Riyan hanya ingin diperlakukan adil, disayangi sebagaimana mestinya, bukan dicampakkan dan dijadikan sebagai prioritas terakhir oleh orang tuanya. Kelebihan Novel ini mampu mebawa pembacanya ikut merasakan apa yang Iyan rasakan sebagai anak tengah. Penulis juga menyentuhkan isu isu tentang orangtua dalam memberi keadilan dalam anak...

Resensi Novel - Fina Zakiyatun

  Judul: Mahajana Penulis: Gigrey Penerbit: Gramedia pustaka utama  Tahun Terbit: 2020 Tebal: 456 halaman Genre: Drama Sosial, Budaya Sinopsis: Novel Mahajana karya Gigrey membawa pembaca menyelami kehidupan masyarakat adat dengan segala keunikan dan konflik yang menyertainya. Cerita ini menggambarkan bagaimana tradisi dan kearifan lokal dipertahankan di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman. Di dalamnya, ada kisah perjuangan mempertahankan nilai-nilai adat, dinamika keluarga, dan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Tokoh utama dalam cerita ini bergulat dengan dilema antara mempertahankan tradisi leluhur atau mengikuti perkembangan modern. Konflik ini tidak hanya personal tetapi juga melibatkan masyarakat luas, menjadikan Mahajana sebagai cerita yang relevan dalam menggambarkan kondisi sosial-budaya di berbagai daerah Indonesia. Kelebihan: 1. Penggambaran Budaya yang Kuat: Gigrey berhasil membawa pembaca masuk ke dalam nuansa kehidupan masyarakat adat dengan d...