Langsung ke konten utama

Naskah drama- Diva Rahmatika, Fara Salma, Septia Putri, M. Haiden, Naysila Firda, Riska Syafa

Judul : Dibalik Sebuah Pertemanan.


Tokoh dan penokohan :

1.       Diva (Siswa yang banyak menuduh temannya)

2.       Fara (Siswa yang menjadi ketua kelas dan penengah)

3.       Septi (Siswa yang mudah marah)

4.       Haiden (Siswa yang berani untuk mengambil uang kas)

5.       Sila (Siswa yang rajin)

6.       Riska (Bendahara kelas yang bertanggung jawab)

 

PROLOG : Septi, Sila, Riska, Fara, Diva, Haiden adalah teman satu kelas. Riska sebagai bendahara, Fara sebagai ketua kelas.

 

Latar : Kelas

(Pagi hari di kelas dengan cahaya yang cerah, lagu yang semangat mengalun saat Septi berjalan memasuki kelas)

 Septi : Halo guys, selamat pagi. (melambaikan tangan)

Riska, Fara, Sila, Diva : Halo (Sahut bersama)

Sila : Tumben jam setengah 7 udah sampe sekolah?

Septi : Kan sekarang aku udah tobat.

Sila : Ngomong-ngomong mana Haiden ya?

Diva : Paling telat dia mah.

Fara : Riska, aku mau bayar uang Tabungan kita dong. (memberi uang kepada riska)

Riska : Oh ya, boleh. (membuka dompet)

Diva : Kira-kira udah kekumpul berapa ya tabungan kita?

Riska : Sekitar 7 juta an.

Septi : (menggelengkan kepala) Guendeng guendeng.

Diva : Pak Indra datang rek. (teriak)

 

(Bel istirahat berbunyi)

Septi : Siapa yang mau ikut aku ke kantin?

Fara : Aku ga deh, aku ga bawa uang, aku mau ke kelas temenku.

Diva : Aku agak ga enak badan, aku ga ikut deh.

Sila : Aku mau ngerjain tugas di perpus dulu ya.

Riska : Bareng aku aja Septi, aku juga mau ke kantin.

Septi : Haiden ga dibangunin? Dari tadi pagi tidur terus.

Fara : Biarin aja dah, nanti bangun sendiri.

 

 

BABAK II

(Di kantin sekolah, suasana yang ramai)

Septi : Kamu mau beli apa Ris?

Riska : Aku mau beli mie aja deh.

Septi : Aku beli apa ya?( sambil berfikir)

Riska : Aku udah pesen mie nya nih, kamu gak pesen juga?

Septi : Eh bentar aku bawa uang berapa ya? (sambil merogoh sakunya)

eh uang ku mana ya? kok ga ada (panik)

Riska : Ketinggalan dikelas kali.

Septi : Eh kayaknya iya deh, yaudah aku ke kelas dulu deh ambil uang.( beranjak pergi)

Riska : Aku tungguin disini ya.

(lampu panggung redup)

 

BABAK III

(Lampu nyala, semuanya sudah berkumpul di dalam kelas kecuali Sila)

Riska : Siapa yang mau bayar kas? Aku mau sekalian nge cek uang kas.(sambil membuka dompet

uang kas) loh uang nya kok gk ada?(panik).

Fara : Kok bisa?(teriak kecil)

Diva : Siapa yang ngambil?

Septi : Sila mana? Jangan jangan dia yang ngambil, kan kemarin dia bilang mau beli tas baru.

Riska : Bisa jadi sih, terus ini gimana?

Fara : Sekarang kita tenang dulu aja.

Septi : Kok kamu masih bisa tenang sih? Ini genting loh.

 

(Musik menegangkan mengalun)

Diva : Jangan jangan kamu yang ngambil ya Far.

Fara : Astagfirullah ga ada sama sekali, kan aku ga da di kelas.

Riska : Apa kamu Septi, tadi kamu ke kelas ambil uang, kemungkinan besar ada di kamu.

Diva : Nah, mungkin septi dalangnya.

Septi : Rek, kok kalian gitu? Kalian ga percaya sama aku? Kan masih ada Diva tuh, dia dari tadi cuman nuduh nuduh doang, dia juga dikelas kan?

Diva : Orang gila mana yang sakit tapi masih bisa nyuri?(nada tinggi)

Septi : Santai dong ga usah marah marah.

Fara : Terus siapa Div? kamu kan dikelas pas kita pada istirahat.

(Sila datang ke kelas, ikut menimbrung)

Sila : Wihh, ada apa nih ribut-ribut.

Septi : Eh kamu gak usah banyak drama deh, Sil! ( sambil menunjuk Sila)

Sila : Ih apaan sih! Kok tiba-tiba aku?.

Diva : Alah gausah gitu.

Riska : Ini loh uang kas kita gaada.

Fara : Mending jujur aja deh, siapa yang ngambil?

Sila : Gausah saling tuduh-tuduhan deh, mending kita cek tas satu sama lain.

Riska : Iya deh biar gak jadi fitnah.

Fara : Yaudah kita cek bareng-bareng, setuju ya semua?

Sila, Septi, Diva, Riska : Iya, kita setuju.

Sila, Septi, Fara, Riska, Diva : (mengecek tas satu sama lain)

Septi : Aman semua, ga ada yang ngambil uang kas.

Sila, Septi, Fara, Riska : (mengangguk setuju)

Diva : Oh ya, tas Haiden belum kita cek.

Fara : Oh ya bener, Haiden masih di kamar mandi, kita tunggu dulu ya.

(Fara, Diva, Septi, Riska, Sila menunggu Haiden di kelas sambil duduk di bangku)

Haiden : (masuk ke kelas) Loh ada apa guys? kok pada ngumpul semua?

Fara : Kita mau ngomong serius sama kamu?

Septi : Kamu yang ngambil uang kas kan? (nada tinggi)

Haiden : Hah? Ya kali aku ngambil uang kas.

Riska : Yang jujur den, kamu juga yang dikelas waktu kita pada istirahat.

Fara : Yaudah, kalo kamu ga mau jujur, boleh kan kalo kita cek tas mu?

Haiden : Ya, bo-boleh (ucap terbata bata)

Riska : Yaudah, kami buka ya. (mengecek tas Haiden)

Sila : Kalo beneran Haiden, parah sih.

Diva : Pasti dia ini yang ngambil.

Septi : Nah itu dia (uangnya ketemu di tas Haiden)

Riska : Ini apa den? (penuh amarah)

Haiden : Guys, aku bisa jelasin?

Diva : Alasan mulu.

Fara : Dengerin dulu penjelasan Haiden.

Sila : Yaudah (sewot)

Haiden : Pertama-tama aku minta maaf karna udah ngambil uang kas. Tapi aku butuh banget uang itu.

Septi : Kamu udah jelas jelas salah, masih mau membela diri?

Diva : Ga jelas kamu den.

Fara : Udah, kita dengerin penjelasan Haiden dulu. Kenapa Kamu ambil uang kas kita?

Haiden : Aku butuh uang untuk kepentingan sekolah, salah satunya bayar SPP, aku udah nunggak 3 bulan dan sekarang ditagih terus terusan(Menghela napas berat). Orang tua ku juga lagi ga ada uang untuk bayar SPP dan menuhin kebutuhan aku. Cuman ini yang bisa aku lakuin, ambil uang kas kita. (menunduk)

Riska : Astaga den. Kamu kan bisa ngomong baik-baik sama kita, ga usah sampe segininya.

Sila : Iya den, kita bisa cari solusinya bareng bareng.

Fara : Betul, yang kamu lakuin ini salah banget den, kamu merugikan banyak orang.

Septi : Kamu mau kita bantu?

Diva : Mau ga den?

Haiden : Kalian mau bantu apa?

Diva : Ya sementara kamu pake uang kas kita dulu, tapi nanti kamu ganti.

Riska : Iya den, nanti omongin baik baik juga sama orang tuamu.

Septi : Apa kamu keberatan?

Haiden : E-enggak aku mau, aku butuh bantuan kalian. Makasih banyak ya teman-teman, aku minta maaf atas kesalahan ku.

Fara : Iya, den, gapapa. Makasih juga sudah jujur, lain kali jangan diulangi lagi.

Septi : Awas ya den, aku pantau kamu setiap detik, menit, jam, hari.

Sila : Mulai lebaynya.

Haiden : Sekali lagi aku minta maaf dan terima kasih ya semua, semoga kebaikan kalian dibalas berkali kali lipat sama Allah.

Fara, Riska, Septi, Sila, Diva: Aamiin (sahut bersama)

Fara : Clear ya urusan kas?

Septi : Yoi bro.

(Musik kebahagiaan mengalun)

EPILOG : Mereka berbincang dan tertawa bersama sampai guru datang memasuki kelas.

(Perlaahan lampu redup)


A.      Analisis struktur

Orientasi : memperkenalkan latar waktu (pagi hari) tempat (kelas). Cerita dimulai saat Septi memasuki kelas dan menyapa dengan riang.

Komplikasi : Konflik antara Septi, Fara, Riska, Diva, Sila, Haiden menuduh satu sama lain.

Resolusi : Septi, Fara, Riska, Diva, Sila mendengarkan penjelasan Haiden dan Haiden meminta maaf atas kesalahan yang sudah diperbuat.

B.      Analisis kebahasaan

Dialog langsung : Septi: ‘Halo guys, selamat pagi.’

Kalimat Imperatif dan Ekspresif : kaget dan tegang, Fara: Loh kok bisa?!

Petunjuk lakuan (stage direction) : (menghela napas berat), (mengambil dompet di dalam tas)

Kosa kata emosional dan Relasional : ‘Kamu ga percaya sama aku?’

Bahasa sehari-hari : ‘halo guys’, ‘guendeng’

Deskripsi singkat:  semuanya sudah berkumpul di kelas kecuali Sila

C.       Pesan moral

Setiap orang bisa melakukan kesalahan, tetapi yang terpenting adalah keberanian untuk mengakui dan memperbaikinya. Kita tidak boleh cepat menilai seseorang tanpa mengetahui alasan di balik tindakannya. Persahabatan yang kuat dibangun dari kepercayaan, empati, dan kesediaan untuk saling membantu di saat sulit. Dengan komunikasi yang baik, masalah sebesar apa pun bisa diselesaikan bersama.

D.      Paragraf Reflektif

Naskah ini menggambarkan pentingnya kepercayaan dan empati dalam persahabatan. Saat uang kas hilang, kecurigaan muncul dan hubungan antar teman diuji. Namun, ketika kebenaran terungkap bahwa Haiden mengambil uang karena masalah keluarga, semua belajar untuk lebih memahami satu sama lain. Dari konflik ini, mereka menyadari bahwa masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi dan kebersamaan, bukan saling menyalahkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi buku - Wirda Tsaniya

  Nama: Wirda Tsaniya Sahla Kelas: XI-7 Tugas: Resensi Novel Warung Bujang Karya Jessica Carmelia Warung Bujang adalah novel karya Jessica Carmelia yang mengangkat tema kehidupan remaja dengan latar belakang kehidupan sehari-hari di sebuah warung kecil. Novel ini menggambarkan kisah tentang harapan, impian, dan hubungan antar manusia, yang diwarnai dengan berbagai konflik dan dinamika yang terjadi dalam kehidupan seorang pemuda bernama Bujang. Plot Cerita Novel ini berfokus pada kehidupan Bujang, seorang pemuda yang memiliki impian besar namun terjebak dalam rutinitas sebagai pemilik warung makan kecil yang diwariskan oleh orang tuanya. Meskipun tampaknya sederhana, kisah ini penuh dengan ketegangan emosional yang dibangun dengan baik oleh penulis. Bujang, yang merupakan karakter utama, harus menghadapi pilihan-pilihan sulit dalam hidupnya, antara mempertahankan usaha warung keluarganya atau mengejar impian pribadinya. Cerita berkembang dengan memperkenalkan berbagai karakter pendu...

Resensi Buku - Fara Salma

  Rahasia Tentang Anak Tengah Judul : Iyan Bukan Anak Tengah Penulis :Armaraher Penerbit : Skuad Tahun: 2023 Tebal: 292 halaman ISBN: 978-633-09-1845-2   Sinopsis Riyan selalu berharap berada di tengah-tengah keluarganya yang hangat, dianggap ada sekaligus disayangi sebagaimana yang Abang dan Adiknya rasakan, tetapi bukan semata-mata kehadirannya ada hanya karena dibutuhkan saja. Di usianya yang baru menginjak remaja, seharusnya Riyan bisa menghabiskan waktu untuk menemukan hal baru di hidupnya, bukan merasakan beban dan luka yang membuatnya berhenti di titik itu dan tidak membiarkannya tumbuh menjadi remaja normal seusianya. Riyan hanya ingin diperlakukan adil, disayangi sebagaimana mestinya, bukan dicampakkan dan dijadikan sebagai prioritas terakhir oleh orang tuanya. Kelebihan Novel ini mampu mebawa pembacanya ikut merasakan apa yang Iyan rasakan sebagai anak tengah. Penulis juga menyentuhkan isu isu tentang orangtua dalam memberi keadilan dalam anak...

Resensi Novel - Fina Zakiyatun

  Judul: Mahajana Penulis: Gigrey Penerbit: Gramedia pustaka utama  Tahun Terbit: 2020 Tebal: 456 halaman Genre: Drama Sosial, Budaya Sinopsis: Novel Mahajana karya Gigrey membawa pembaca menyelami kehidupan masyarakat adat dengan segala keunikan dan konflik yang menyertainya. Cerita ini menggambarkan bagaimana tradisi dan kearifan lokal dipertahankan di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman. Di dalamnya, ada kisah perjuangan mempertahankan nilai-nilai adat, dinamika keluarga, dan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Tokoh utama dalam cerita ini bergulat dengan dilema antara mempertahankan tradisi leluhur atau mengikuti perkembangan modern. Konflik ini tidak hanya personal tetapi juga melibatkan masyarakat luas, menjadikan Mahajana sebagai cerita yang relevan dalam menggambarkan kondisi sosial-budaya di berbagai daerah Indonesia. Kelebihan: 1. Penggambaran Budaya yang Kuat: Gigrey berhasil membawa pembaca masuk ke dalam nuansa kehidupan masyarakat adat dengan d...